• Galeri

    Pencinta Alam Remaja SMA N 1 Pati

  • Prestasi

    Prestasi Paresmapa

  • Tentang PARESMAPA

    Sejarah

  • Artikel

    Berita Terbaru

  • Selasa, 24 April 2018


                Ekpedisi merupakan perjalanan yang dilakukan untuk tujuan tertentu, biasanya penjelajahan dan penelitian. Seperti yang telah dilakukan oleh Paresmapa kemarin tanggal 9 April 2018. Paresmapa melakukan ekspedisi Candi Ngreco di Pulingan yang diikuti oleh PA 29, PA 30 dan alumni. Kegiatan ini berlangsung dengan asik dan banyak tantangan tentunya. Kegiatan ini dimulai pukul 08.00 s/d 17.00 WIB. Disana kami tidak langsung menuju ke Candi Ngreco yang merupakan objek ekspedisi kami kali ini. Namun kami terlebih dahulu mengumpulkan data – data tentang Candi Ngreco termasuk lokasi Candi Ngreco. Sedikit sekali warga yang mengetahui keberadaan Candi Ngreco tersebut. Bahkan untuk mendapatkan informasi mengenai lokasi Candi Ngreco kami membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk bertanya – tanya kepada warga sekitar (warga Dk. Pulingan). Namun karena warga Dukuh Pulingan tidak ada yang tahu mengenai lokasi dan sejarah tentang Candi Ngreco akhirnya kami memutuskan untuk bertanya kepada warga Dk. Pangonan. Disana kami bertanya – tanya kepada warga sekitar dan akhirnya kami mendapatkan narasumber yang paham tentang sejarah singkat dan lokasi Candi Ngreco tersebut. Kami bertanya – tanya kurang lebih sampai pukul 15.00 WIB. Dalam proses mengumpulkan informasi mengenai Candi Ngreco tersebut, sesekali kami beristirahat untuk melepas lelah sekaligus melakukan ibadah.
                Setelah mendapatkan informasi mengenai lokasi Candi Ngreco, kami pun langsung bergegas untuk mencari dan menuju lokasi candi tesebut. Karena keterbatasan waktu yang kami miliki, maka hanya sebagian dari tim kami yang pergi untuk menuju lokasi tersebut dengan menggunakan motor dan sisanya mengumpulkan informasi tentang sejarah Candi Ngreco tersebut, pasalnya narasumber yang sebelumnya memang tahu mengenai lokasi Candi Ngreco, namun kurang tahu mengenai sejarahnya. Setelah 1 jam lamanya perjalanan kami menuju Candi Ngreco dan melalui medan yang curam akhirnya kami sampai juga di daerah Ngreco, namun kami masih belum juga menemukan candi tersebut. Kami meninggalkan motor kami di tempat yang agak datar, lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Setelah menyisir kanan kiri kami akhirnya kami melihat tumpukan bata di tengah – tengah rimbunnya kebun kopi. Kami memutuskan untuk menuju kesana. Dan akhirnya benar itu adalah candi yang kami maksud. Setelah menemukan candi tersebut kami pun mengambil beberapa foto Candi Ngreco tersebut. Berikut adalah foto dari Candi Ngreco.

    Candi Pamohan Ajar adalah salah satu peninggalan Majapahit yang ada di wilayah Pati. Candi ini terletak di Dukuh Pangonan, Desa Gunungsari, Kec. Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Struktur dari Candi Ngreco ini terbuat dari tumpukan batu bata merah yang berukuran besar. Meskipun terbuat dari batu bata namun bangunan ini bisa bertahan sampai sekarang.
                Menurut Pak Sudadi LMDH salah seorang narasumber yang kami temui menjelaskan bahwa sekitar 2 tahun yang lalu banyak peneliti dari berbagai kota luar Jawa yang melakukan penelitian di Ngreco. Alhasil mereka menemukan tumpukan batu bata merah besar yang disebut arca, ternyata saat diteliti arca tersebut merupakan peninggalan nenek moyang berupa tempat penduduk Suku Ajar yang dipimpin oleh Mbah Rokopo. Sekarang arca tersebut disimpan oleh Dinas Kebudayaan guna penelitian lebih lanjut dan perlindungan.

    Ekspedisi Candi Ngreco (Pamohan Ajar)

    Posted at  15.22  |  in  Pulingan  |  Read More»


                Ekpedisi merupakan perjalanan yang dilakukan untuk tujuan tertentu, biasanya penjelajahan dan penelitian. Seperti yang telah dilakukan oleh Paresmapa kemarin tanggal 9 April 2018. Paresmapa melakukan ekspedisi Candi Ngreco di Pulingan yang diikuti oleh PA 29, PA 30 dan alumni. Kegiatan ini berlangsung dengan asik dan banyak tantangan tentunya. Kegiatan ini dimulai pukul 08.00 s/d 17.00 WIB. Disana kami tidak langsung menuju ke Candi Ngreco yang merupakan objek ekspedisi kami kali ini. Namun kami terlebih dahulu mengumpulkan data – data tentang Candi Ngreco termasuk lokasi Candi Ngreco. Sedikit sekali warga yang mengetahui keberadaan Candi Ngreco tersebut. Bahkan untuk mendapatkan informasi mengenai lokasi Candi Ngreco kami membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk bertanya – tanya kepada warga sekitar (warga Dk. Pulingan). Namun karena warga Dukuh Pulingan tidak ada yang tahu mengenai lokasi dan sejarah tentang Candi Ngreco akhirnya kami memutuskan untuk bertanya kepada warga Dk. Pangonan. Disana kami bertanya – tanya kepada warga sekitar dan akhirnya kami mendapatkan narasumber yang paham tentang sejarah singkat dan lokasi Candi Ngreco tersebut. Kami bertanya – tanya kurang lebih sampai pukul 15.00 WIB. Dalam proses mengumpulkan informasi mengenai Candi Ngreco tersebut, sesekali kami beristirahat untuk melepas lelah sekaligus melakukan ibadah.
                Setelah mendapatkan informasi mengenai lokasi Candi Ngreco, kami pun langsung bergegas untuk mencari dan menuju lokasi candi tesebut. Karena keterbatasan waktu yang kami miliki, maka hanya sebagian dari tim kami yang pergi untuk menuju lokasi tersebut dengan menggunakan motor dan sisanya mengumpulkan informasi tentang sejarah Candi Ngreco tersebut, pasalnya narasumber yang sebelumnya memang tahu mengenai lokasi Candi Ngreco, namun kurang tahu mengenai sejarahnya. Setelah 1 jam lamanya perjalanan kami menuju Candi Ngreco dan melalui medan yang curam akhirnya kami sampai juga di daerah Ngreco, namun kami masih belum juga menemukan candi tersebut. Kami meninggalkan motor kami di tempat yang agak datar, lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Setelah menyisir kanan kiri kami akhirnya kami melihat tumpukan bata di tengah – tengah rimbunnya kebun kopi. Kami memutuskan untuk menuju kesana. Dan akhirnya benar itu adalah candi yang kami maksud. Setelah menemukan candi tersebut kami pun mengambil beberapa foto Candi Ngreco tersebut. Berikut adalah foto dari Candi Ngreco.

    Candi Pamohan Ajar adalah salah satu peninggalan Majapahit yang ada di wilayah Pati. Candi ini terletak di Dukuh Pangonan, Desa Gunungsari, Kec. Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Struktur dari Candi Ngreco ini terbuat dari tumpukan batu bata merah yang berukuran besar. Meskipun terbuat dari batu bata namun bangunan ini bisa bertahan sampai sekarang.
                Menurut Pak Sudadi LMDH salah seorang narasumber yang kami temui menjelaskan bahwa sekitar 2 tahun yang lalu banyak peneliti dari berbagai kota luar Jawa yang melakukan penelitian di Ngreco. Alhasil mereka menemukan tumpukan batu bata merah besar yang disebut arca, ternyata saat diteliti arca tersebut merupakan peninggalan nenek moyang berupa tempat penduduk Suku Ajar yang dipimpin oleh Mbah Rokopo. Sekarang arca tersebut disimpan oleh Dinas Kebudayaan guna penelitian lebih lanjut dan perlindungan.

    0 komentar:

    Senin, 23 April 2018

    Hari Bumi pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan apresiasi dan kesadaran manusia terhadap planet yang ditinggali oleh manusia saat ini yaitu bumi. Setiap 22 April, hampir di seluruh dunia memperingati Hari Bumi, tidak terkecuali di Indonesia, dan secara global telah dikoordinasi oleh Jaringan Hari Bumi atau Earth Day Network. Banyak teori tentang bagaimana tanggal 22 April dijadikan sebagai Hari Bumi. Dan salah satu yang sangat diyakini dan dijadikan acuan diperingatinya, berasal dari Amerika Serikat.


    Pertama kali dicanangkan oleh Senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson, pada tahun 1970. Dia adalah seorang pengajar di bidang disiplin ilmu lingkungan hidup. Tanggal ini sebenarnya bertepatan dengan waktu musim semi di daerah Northern Hemisphere pada belahan Bumi utara, dan waktu musim gugur pada belahan Bumi selatan.

    United Nation (UN) atau PBB memperingati hari Bumi sedunia pada tanggal 20 Maret yang merupakan sebuah tradisi dari aktivis perdamaian John McConnell pada tahun 1969. Tanggal tersebut merupakan hari dimana matahari berada tepat di atas khatulistiwa atau dikenal dengan istilah “Ekuinoks Maret”.

    Di Indonesia, peringatan atau perayaan Hari Bumi sebenarnya belum banyak diketahui oleh kalangan masyarakat. Hal ini berbanding terbalik dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang selalu diperingati setiap tanggal 5 Juni. Pada dasarnya memang tidak terdapat perbedaan antara Hari Bumi Sedunia dengan Hari Lingkungan Sedunia. Hal yang paling membedakan antara dua hari besar itu adalah sejarahnya saja.
    Hari Bumi awalnya diprakarsai oleh masyarakat serta diperingati oleh LSM dan organisasi di bidang pelestarian lingkungan hidup, sedangkan Hari Lingkungan Sedunia diperingati berdasarkan Konferensi UN tentang Lingkungan hidup yang berlangsung pada 5 Juni 1972 di Stockholm.  Tanggal konferensi tersebut kemudian ditetapkan menjadi Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Indonesia berpartisipasi dalam konferensi tersebut dan diwakili oleh Prof. Emil Salim yang menjabat sebagai Kepala Bappenas. Hari Lingkungan Hidup Sedunia dianggap lebih resmi dan sering diperingati oleh masyarakat maupun pemerintah di sejumlah negara di dunia. Tujuan dasar dari kedua peringatan hari besar tersebut adalah untuk merangsang kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup yang semakin hari semakin rusak.
    Hari bumi kebanyakan hanya diketahui dan diperingati para aktifis peduli lingkungan saja di seluruh dunia. Di sisi lain, peringatan hari Bumi sedunia sering dianggap sebagai ajang berkumpulnya para aktivis namun minim tindak lanjut secara nyata di lapangan. Berbagai kerusakan lingkungan hidup di bumi telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup serta mengakibatkan terjadinya berbagai bencana alam seperti longsor, banjir, angin topan, kekeringan, krisis air bersih dan kebakaran hutan. Kerusakan lingkungan disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri dan dampak negatifnya pun akan dirasakan oleh manusia juga. Kesadaran masyarakat cenderung menurun untuk menjaga, merawat, serta melestarikan lingkungan hidup. Upaya untuk melestarikan lingkungan hidup tidak hanya tanggung jawab perorangan saja, akan tetapi tanggung jawab dari semua pihak yang hidup di bumi ini.


                   Kesadaran untuk melestarikan lingkungan hidup seharusnya ditanamkan sedini mungkin dan harus berkesinambungan atau tak lekang oleh waktu. Hal ini tidak terlepas dari kesadaran sosial yang dapat ditumbuhkan melalui penyuluhan atau pemberian informasi yang lengkap tentang pelestarian lingkungan kepada masayarakat umum. Selain itu, perubahan iklim di bumi sangat sulit untuk dicegah meskipun berbagai upaya antisipasi dan pencegahan telah banyak dilakukan. Keadaan ini memaksa manusia untuk dapat beradaptasi dengan perubahan iklim tersebut. Salah satu caranya  adalah dengan mengubah perilaku yang merusak alam menjadi perilaku yang selalu cinta dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.


    Intermeso:
    Peringatan hari bumi awalnya adalah ritual persembahan untuk Dewi Gaea (mitologi Yunani). Sementara leluhur bangsa ini juga mengajarkan penghormatan kepada Dewi Sri (mitologi Indonesia) dalam upacara sedekah bumi dimasing2 desa.





    Semoga para penggiat peringatan hari bumi juga punya semangat yg sama untuk menghargai warisan budaya leluhurnya sendiri. Jangan cuma " ANUT GRUBYUK ORA WERUH REMBUG ", & sudah merasa hebat bisa memperingati hari bumi tapi gak paham dengan budaya sendiri. – Kutipan Ligan Narang. 2018



    LEBIH KENAL DENGAN HARI BUMI

    Posted at  17.35  |  in  ilmu pengetahuan  |  Read More»

    Hari Bumi pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan apresiasi dan kesadaran manusia terhadap planet yang ditinggali oleh manusia saat ini yaitu bumi. Setiap 22 April, hampir di seluruh dunia memperingati Hari Bumi, tidak terkecuali di Indonesia, dan secara global telah dikoordinasi oleh Jaringan Hari Bumi atau Earth Day Network. Banyak teori tentang bagaimana tanggal 22 April dijadikan sebagai Hari Bumi. Dan salah satu yang sangat diyakini dan dijadikan acuan diperingatinya, berasal dari Amerika Serikat.


    Pertama kali dicanangkan oleh Senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson, pada tahun 1970. Dia adalah seorang pengajar di bidang disiplin ilmu lingkungan hidup. Tanggal ini sebenarnya bertepatan dengan waktu musim semi di daerah Northern Hemisphere pada belahan Bumi utara, dan waktu musim gugur pada belahan Bumi selatan.

    United Nation (UN) atau PBB memperingati hari Bumi sedunia pada tanggal 20 Maret yang merupakan sebuah tradisi dari aktivis perdamaian John McConnell pada tahun 1969. Tanggal tersebut merupakan hari dimana matahari berada tepat di atas khatulistiwa atau dikenal dengan istilah “Ekuinoks Maret”.

    Di Indonesia, peringatan atau perayaan Hari Bumi sebenarnya belum banyak diketahui oleh kalangan masyarakat. Hal ini berbanding terbalik dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang selalu diperingati setiap tanggal 5 Juni. Pada dasarnya memang tidak terdapat perbedaan antara Hari Bumi Sedunia dengan Hari Lingkungan Sedunia. Hal yang paling membedakan antara dua hari besar itu adalah sejarahnya saja.
    Hari Bumi awalnya diprakarsai oleh masyarakat serta diperingati oleh LSM dan organisasi di bidang pelestarian lingkungan hidup, sedangkan Hari Lingkungan Sedunia diperingati berdasarkan Konferensi UN tentang Lingkungan hidup yang berlangsung pada 5 Juni 1972 di Stockholm.  Tanggal konferensi tersebut kemudian ditetapkan menjadi Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Indonesia berpartisipasi dalam konferensi tersebut dan diwakili oleh Prof. Emil Salim yang menjabat sebagai Kepala Bappenas. Hari Lingkungan Hidup Sedunia dianggap lebih resmi dan sering diperingati oleh masyarakat maupun pemerintah di sejumlah negara di dunia. Tujuan dasar dari kedua peringatan hari besar tersebut adalah untuk merangsang kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup yang semakin hari semakin rusak.
    Hari bumi kebanyakan hanya diketahui dan diperingati para aktifis peduli lingkungan saja di seluruh dunia. Di sisi lain, peringatan hari Bumi sedunia sering dianggap sebagai ajang berkumpulnya para aktivis namun minim tindak lanjut secara nyata di lapangan. Berbagai kerusakan lingkungan hidup di bumi telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup serta mengakibatkan terjadinya berbagai bencana alam seperti longsor, banjir, angin topan, kekeringan, krisis air bersih dan kebakaran hutan. Kerusakan lingkungan disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri dan dampak negatifnya pun akan dirasakan oleh manusia juga. Kesadaran masyarakat cenderung menurun untuk menjaga, merawat, serta melestarikan lingkungan hidup. Upaya untuk melestarikan lingkungan hidup tidak hanya tanggung jawab perorangan saja, akan tetapi tanggung jawab dari semua pihak yang hidup di bumi ini.


                   Kesadaran untuk melestarikan lingkungan hidup seharusnya ditanamkan sedini mungkin dan harus berkesinambungan atau tak lekang oleh waktu. Hal ini tidak terlepas dari kesadaran sosial yang dapat ditumbuhkan melalui penyuluhan atau pemberian informasi yang lengkap tentang pelestarian lingkungan kepada masayarakat umum. Selain itu, perubahan iklim di bumi sangat sulit untuk dicegah meskipun berbagai upaya antisipasi dan pencegahan telah banyak dilakukan. Keadaan ini memaksa manusia untuk dapat beradaptasi dengan perubahan iklim tersebut. Salah satu caranya  adalah dengan mengubah perilaku yang merusak alam menjadi perilaku yang selalu cinta dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.


    Intermeso:
    Peringatan hari bumi awalnya adalah ritual persembahan untuk Dewi Gaea (mitologi Yunani). Sementara leluhur bangsa ini juga mengajarkan penghormatan kepada Dewi Sri (mitologi Indonesia) dalam upacara sedekah bumi dimasing2 desa.





    Semoga para penggiat peringatan hari bumi juga punya semangat yg sama untuk menghargai warisan budaya leluhurnya sendiri. Jangan cuma " ANUT GRUBYUK ORA WERUH REMBUG ", & sudah merasa hebat bisa memperingati hari bumi tapi gak paham dengan budaya sendiri. – Kutipan Ligan Narang. 2018



    0 komentar:

    Senin, 16 April 2018


    Di Indonesia, sungai memiliki banyak manfaat bagi masyarakat disekitarnya. Sungai juga memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
    Namun pada kenyataannya, bukannya menjaga dan memelihara sungai-sungai tersebut. Tidak sedikit juga  masyarakat yang malah memanfaatkan sungai sebagai “tempat sampah” mereka. Hal tersebut membuat kondisi sungai menjadi kotor dan bau. Yang kemudian beralih menjadi tempat berkembang biak berbagai penyakit.
    Melihat keadaan sungai yang memprihatinkan tersebut, PARESMAPA berinisiatif untuk berusaha membersihkan salah satu sungai yang tercemar. Pada tanggal 20 Maret 2018,  PARESMAPA melakukan kegiatan bersih sungai. Sungai yang menjadi sasaran adalah sungai yang berada di daerah Pati Kidul, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati yaitu Sungai Jiglong.
    Salah satu alasan mengapa sungai tersebut dipilih sebagai sasaran kegiatan bersih sungai adalah karena sungai tersebut dianggap sebagai wajah sungai Kota Pati. Sehingga kegiatan tersebut diharapkan dapat membersihkan sungai yang menjadi wajah dari Kota Pati itu sendiri agar menjadi bersih.


    BERSIH SUNGAI

    Posted at  16.35  |  in  susur sungai  |  Read More»


    Di Indonesia, sungai memiliki banyak manfaat bagi masyarakat disekitarnya. Sungai juga memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
    Namun pada kenyataannya, bukannya menjaga dan memelihara sungai-sungai tersebut. Tidak sedikit juga  masyarakat yang malah memanfaatkan sungai sebagai “tempat sampah” mereka. Hal tersebut membuat kondisi sungai menjadi kotor dan bau. Yang kemudian beralih menjadi tempat berkembang biak berbagai penyakit.
    Melihat keadaan sungai yang memprihatinkan tersebut, PARESMAPA berinisiatif untuk berusaha membersihkan salah satu sungai yang tercemar. Pada tanggal 20 Maret 2018,  PARESMAPA melakukan kegiatan bersih sungai. Sungai yang menjadi sasaran adalah sungai yang berada di daerah Pati Kidul, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati yaitu Sungai Jiglong.
    Salah satu alasan mengapa sungai tersebut dipilih sebagai sasaran kegiatan bersih sungai adalah karena sungai tersebut dianggap sebagai wajah sungai Kota Pati. Sehingga kegiatan tersebut diharapkan dapat membersihkan sungai yang menjadi wajah dari Kota Pati itu sendiri agar menjadi bersih.


    0 komentar:


    Halo Teman-teman Pecinta Alam. Kali ini PARESMAPA akan mebagikan kisah seru dan mengesankan ke kalian semua yaitu mengenai ekspedisi di Air Terjun Kali Pekeng. Terdengar unik dan lucu dengar sebutan Air Terjun Kali Pekeng. Yah jangan heran dengan subutannya yaa. Dibalik namanya, Kali Pekang ini juga menyimpan kisah-kisah yang begitu indah, asyik, menarik pokoknya mantap deh untuk kalian lakukan ekspedisi sebagai anak pecinta alam. Penasaran kisah lanjutnya PARESMAPA? Cus langsung aja yukkk
    Jadi ceritanya gini sobat ...
    Ekspedisi PARESMAPA kali ini dilaksanakan Tanggal 9-10 April 2018. Lokasinya deket kok, di daerah Pangonan Gunungsari, Tlogowungu. Ekspedisi kali ini merupakan program kerja taunan. Sebenarnya ekspedisi dibagi menjadi 2, yaitu ekspedisi Air Terjun Kali Pekeng dan ada ekspedisi candi. Tapi PARESMAPA mau bahas mengenai Air Terjun Kali Pekeng dulu yaa, yang candinya besok-besok. Biar buat kalian semua penasaran, ehehe. Kegiatan ini dikuti oleh 3 orang alumni, 9 orang angkatan 29, 1 orang angkatan 30, dan 1 orang partisipan.
    Perjalanan menuju air terjun kali pekeng, bisa dibilang susah-susah gampang. Tapi jika kalian lakukan dengan gembira pasti sangat menyenangkan. Pemandangannya juga bagus lhoo. Pokonya seru dehhh.
    Udah dulu ya ceritanya teman-teman. Tunggu cerita - cerita seru dan pengetahuan-pengetahuan lainnya yaa. Sampai jumpaa....
    Aku kasih pantun nih buat kalian
    Ada si Dian ada si Sisi
    Cukup sekian dan Terima Kasih. J


    Ekspedisi Air Terjun Kalipeken

    Posted at  16.28  |  in  gunung  |  Read More»


    Halo Teman-teman Pecinta Alam. Kali ini PARESMAPA akan mebagikan kisah seru dan mengesankan ke kalian semua yaitu mengenai ekspedisi di Air Terjun Kali Pekeng. Terdengar unik dan lucu dengar sebutan Air Terjun Kali Pekeng. Yah jangan heran dengan subutannya yaa. Dibalik namanya, Kali Pekang ini juga menyimpan kisah-kisah yang begitu indah, asyik, menarik pokoknya mantap deh untuk kalian lakukan ekspedisi sebagai anak pecinta alam. Penasaran kisah lanjutnya PARESMAPA? Cus langsung aja yukkk
    Jadi ceritanya gini sobat ...
    Ekspedisi PARESMAPA kali ini dilaksanakan Tanggal 9-10 April 2018. Lokasinya deket kok, di daerah Pangonan Gunungsari, Tlogowungu. Ekspedisi kali ini merupakan program kerja taunan. Sebenarnya ekspedisi dibagi menjadi 2, yaitu ekspedisi Air Terjun Kali Pekeng dan ada ekspedisi candi. Tapi PARESMAPA mau bahas mengenai Air Terjun Kali Pekeng dulu yaa, yang candinya besok-besok. Biar buat kalian semua penasaran, ehehe. Kegiatan ini dikuti oleh 3 orang alumni, 9 orang angkatan 29, 1 orang angkatan 30, dan 1 orang partisipan.
    Perjalanan menuju air terjun kali pekeng, bisa dibilang susah-susah gampang. Tapi jika kalian lakukan dengan gembira pasti sangat menyenangkan. Pemandangannya juga bagus lhoo. Pokonya seru dehhh.
    Udah dulu ya ceritanya teman-teman. Tunggu cerita - cerita seru dan pengetahuan-pengetahuan lainnya yaa. Sampai jumpaa....
    Aku kasih pantun nih buat kalian
    Ada si Dian ada si Sisi
    Cukup sekian dan Terima Kasih. J


    0 komentar:

    About-Privacy Policy-Contact us
    Copyright © 2013 PARESMAPA || Pencinta Alam Remaja SMA Negeri 1 Pati ||. Template by Bloggertheme9
    Powered by Paresmapa Team.
    back to top