• Galeri

    Pencinta Alam Remaja SMA N 1 Pati

  • Prestasi

    Prestasi Paresmapa

  • Tentang PARESMAPA

    Sejarah

  • Artikel

    Berita Terbaru

  • Sabtu, 30 Juni 2012

    Tim Ekspedisi Merapi 2012

    Paresmapa XXIV: Budi, Saka, Ali, Danang, Dhini, Chaca

    Alumni: Jojk, Agus Armanto (mukri), Alif, Zaenuri, Uyung, Enggar, Bagas
    + Mas Dwi Julianto (rekan dari semarang)

    -Tim Ekspedisi Gng. Merapi (Paresmapa) dan Mas Dwi Julianto (pake baju lurik)-
    Minggu, 24 juni 2012

    Pk. 01.30

    Mataku belum terpejam, badan ini masih ingin menikmati dingin malam, bersama kegelapan seadanya. Samar-samar logo dari tenda biru didepanku terlihat, bayangan gelap seorang pendaki dengan tas carrier dipundaknya dan sebuah tongkat di genggaman tangannya, seperti menemani anak2 didalam tenda sedang beristirahat, entah tertidur atau hanya berpejam buta sambil menahan hawa dingin udara di New Selo.

    “Perjalanan belum dimulai, istirahatlah…” mungkin dia berkata seperti itu.
    “Sebentar lagi waktunya mereka bangun…” balasku.
    “Nyalakan 1 batang rokok dulu biar kamu tidak terlalu kedinginan…” akhir kata darinya.

    Menghisap 1 batang rokok ini, cukup untuk membawaku kembali ke perjalanan awal tadi, kilasan-kilasan ceritanya pun berputar di kepala: (Pk. 08.00) berkumpul di Terminal Pati bersama rekan2  angkatan 23 serta rekan lain yang ikut mengantar tim ekspedisi;-wiwiek[22],dinda-, pesan dari Lek Sus n mas Sidiq Subroto, berfoto bersama, (Pk. 11.00) bertemu rekan alumni lain (Mas Zaenuri) di Terminal Semarang, Debat dengan kondektur Bis Semarang-Solo, (Pk. 15.00) Dapet Carteran Murah Bis Mini Boyolali-Selo, Mampir di rumah Pak Sarju (ex-penerima bantuan dari rekan2 pati ketika bencana merapi 2010 silam), (Pk. 20.00) Masak dan makan bersama Bihun ala Pak Agus (Mas Mukri) @Camp New Selo, sampai kejadian yang terakhir tadi saat sebelum istirahat, kedatangan tamu bapak2 polisi selo yang salah satunya ternyata orang pati juga.
    awal perjalanan yang cukup hangat, dan sebentar lagi mereka akan memulai lagi cerita perjalanan yang lain.
    Pk.02.00
    Dari yang gelap,sunyi dan sepi, tiba2 berganti dengan kesibukan rekan2 yang sedang packing tas dan carrier masing2, mengambil air untuk bekal selama pendakian, packing tenda, sementara saya, sambil menikmati kopi bangka titipan dari mas Wahyu adi, sesekali mengingatkan: “jangan ada yang tertinggal selain jejak kita disini”, sontak setelah selesai packing rekan2 berlanjut bersih2 lokasi camp.

    30 menit berlalu, rekan2 sudah siap, dan lokasi camp sudah bersih, minimal dari sampah rekan2 sendiri. Kemudian, sebelum berangkat saya adakan briefing sebentar untuk menjelaskan medan yang akan dilalui rekan2 selanjutnya. Dan selalu berpesan kepada mereka, “setelah ini barulah kita akan mendaki sebenernya, kita datang bareng-bareng 1 tim, maka kita turun juga 1 tim, jangan ada yang duluan dan jangan ada yang tertinggal”… briefing saya akhiri dengan berdoa bersama dan selanjutnya seperti biasa: Paresmapa… Jaya!!! (motivasi ampuh ala rekan2 paresmapa)
    Pk. 02.45
    Minggu dini hari, 13 pendaki yang sebagiannya masih pemula (11 cowok dan 2 Cewek) mendaki rintangan pertama gunung merapi yaitu jalur dari New Selo – Pos I (Gerbang Perhutani/BTNMerbabu-Merapi). Jalur yang dilalui berupa jalan berpasir yang sedikit menanjak dengan kemiringan 30o. Medan awal ini tampaknya seperti memberikan pemanasan yang cukup berat. Maklum karena banyak yang baru pertama kali ini mendaki gunung dengan ketinggian diatas 2500m. Alhasil, jalur ini dilalui dengan waktu 2 jam perjalanan.

    Sampai di POS I Pk. 04.30,
    matahari pagi sudah menampakkan sinar jingganya di ufuk barat. Dengan Ketinggian sekitar 1600m, rekan2 berhenti sejenak untuk menikmati sunrise sambil beristirahat dan sarapan pagi. Menu kali ini spesial dari Pak Agus (Mukri) berupa Bubur Bayi rasa pisang+Susu Coklat+Roti tawar. Saya rasa matahari pagi yang pelan2 beranjak naik dan menu sarapan dari mas mukri, memberikan suntikan semangat baru bagi rekan2, tampak mereka asik bercanda dan berfoto bersama, mengagumi keindahan lembah selo, dan juga gunung merbabu yang megah berdiri di depan mereka.

    -sunrise @pos I jalur pendakian merapi via selo-
    -Sunrise dgn latar lembah Selo dan kaki Gng. Merbabu-
    Vegetasi di sepanjang jalur didominasi oleh pohon pohon pinus yang menjulang dengan ketinggian rata rata 10m, Rindangnya pohon pohon ini memberi udara pagi hari yang sejuk,dan menyegarkan suasana selama pendakian menuju Pos selanjutnya yaitu Pos II (Tugu). Rekan2pun menikmatinya sambil bercanda, namun setelah 1 jam, semua itu terganggu oleh debu pasir yang berterbangan. Sebab sudah banyak rombongan pendaki lain yang turun. Dalam posisi turun, mereka (rombongan yang turun) bergerak cepat sambil sedikit berlari, sehingga debu pasir berterbangan terbawa udara yang secara otamatis pasti naik keatas.
    Pk. 09.00
    Sebuah tanah datar kira-kira 500m di bawah Pos II, rekan2 memilih beristirahat, sekitar 30 menit, sambil membasahi tenggorokan yang sudah kering, karena matahari yang mulai terik, dan juga mengganjal perut yang lapar dengan roti. Sudah hampir 2 jam lebih rekan2 mendaki trek yang lumayan terjal dan pastinya tenagapun terkuras cukup banyak. Sayapun ikut menikmati istirahat mereka dengan 1 batang rokok dan sedikit-sedikit memberi tambahan motivasi buat rekan2.

    “masih lama mas?” tanya salah satu rekan angkatan 23.
    “kira2 bukit diatas itu udah Pos II, disana kita istirahat lagi dan makan siang…” jawabku sambil menghembuskan asap rokok pelan2. “bukit itu mas?” tanya rekan 24 yang lain.
    “iya..” jawabku setengah memahami nada kelelahan-nya,
    “wah, masih tinggi jg tho..” keluh dia,
    “kalo naiknya sambil ngeluh ya rasanya berat, tapi kalo naeknya sambil dinikmati, ga kerasa kok beratnya.. capek iya, tapi ada hal lain yang bikin capeknya ilang, lihat aja diatas ntar..” jawabku sambil menyemangati.

    Pk. 11.50
    tanjakan terjal yang membuat salah satu rekan merasa berat, akhirnya terlewati. Vegetasi yang ada sudah didominasi oleh tanaman perdu, ini berarti rekan2 sudah berada di ketinggian diatas 2000m, dan sebentar lagi pastiya udah POS II yang letaknya ga jauh dari Pasar Bubrah (Pos Terakhir sebelum puncak merapi). Dan…  dari atas bukit juga udah tampak Puncak Merapi yang seperti menyapa rekan2 tanpa terbalut satupun helai awan. Inilah yang saya maksud sebagai pengobat lelah, pemandangan yang jarang kita temui di deket rumah.

    -view puncak merapi @Pos II Tugu (atas), view Gng. Merbabu (bawah)-
    Rekan2 masih terkagum-kagum dengan pemandangan dihadapan mereka itu. Belum lagi di belakang (sebelah utara) pemandangan awan putih yang menutupi punggung Gng. Merbabu tak kalah menarik untuk dinikmati. Sesaat kelelahan mereka terobati. Akhirnya selama hampir 1 jam lebih, kami  istirahat di Pos II (Tugu), sambil makan siang dan menikmati udara dingin siang hari pegunungan yang memang seakan memaksa untuk tertidur dalam belaiannya.
    Pk.13.00
    “om, disini udah ada edelwies belum om?” tanya salah satu rekan angkatan 23
    “ada, kalo mau turun ke bawah dikit, yang dibawah udah ada kembangnya..” jawabku yang memang dari tadi mencari tanaman edelwies yang udah berbunga.
    “kenapa owk edelwies dinamakan bunga abadi om?” kembali dia bertanya,
    “karena awet, kalo dibawa turun, bunganya bisa tahan ga rusak sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, ceritanya orang2 si gitu.. saya blum pernah ngambil bawa soalnya” jawabku.

    Tak jauh dari lokasi istirahat (sekitar Pos II), pohon edelwies dengan bunganya yang mulai mekar dapat dilihat, namun lokasinya yang berada di pinggiran tebing, hanya rekan2 cowok saja yang bisa merambah sampai dekat. Edelwies merupakan tanaman khas daerah pegunungan, tanaman ini hanya dapat dijumpai di ketinggian lebih dari 2000mdpl. Bagi kalangan pendaki bunga edelweis dikenal dengan bunga abadi. Sering sekali pendaki yang nakal akan memetik bunganya sebagai oleh2 pendakian, satu hal yang menjadi keprihatinan sebenernya. Dan rekan2 juga dapet pesan yang sama dari Lek Sus, edelwies hanya boleh diambil gambarnya saja alias hanya boleh difoto.
    Pk.14.15
    Perjalanan berlanjut lagi, kali ini bebannya agak berkurang, tas carrier dan perlengkapan yang lain ditinggal di camp deket Pos II. Alat dan logistik yg dibawa ke atas hanya air, beberapa snack secukupnya, masker, dan webbing. Ini karena medan yang dilalui adalah berbatu batu, sedikit vegetasi, dan tak jarang gas belerang keluar disela-sela jalur.  Selain daya tahan fisik, ketahanan mental pun akan makin di uji di sepanjang jalur ke atas.

    -view jalur pendakian dari Pos II ke Puncak Merapi-
    -Trek jalur menuju Pasar Bubrah sebelum puncak Merapi-
    Tepat Pk. 15.10 Tim ekspedisi merapi sampai di Pasar Bubrah (>2600mdpl)
    Setelah melewati trek terjal dengan dominasi batu batu yang labil, tim berhasil sampai di sebuah lokasi yang dinamakan Pasar Bubrah. Lokasi ini merupakan tanah datar seukuran 3x lapangan bola, tidak ada vegetasi, hanya ada bebatuan besar dan kecil yang berserakan, serta pasir abu dari sisa letusan tahun 2010 kemarin. Dari Pasar bubrah tampak dengan megah dan lebih dekat lagi, Puncak Merapi. (Inilah wajah puncak merapi dilihat dari Pasar Bubrah)

    -bareng2 @Pasar Bubrah dengan view Puncak Merapi-
    Waktu sudah sore Pk. 16.00 ketika saya meminta yang lain untuk berkumpul. Dari tadi rekan2 sibuk merekam pencapaian mereka di ekspedisi kali ini. Memang rekan2 tidak dapat mendaki sampai puncak karena terbatasnya waktu, namun perjuangan mereka yang masih masuk kategori pemula untuk gunung setinggi merapi, layak mendapat apresiasi.
    “bukan masalah gunung dan puncaknya yang tertaklukkan, tapi diri kalian sendiri yang harus ditaklukan… puncak pencapaian adalah dimana kita bisa mengalahkan diri kita sendiri… tempat ini bukti bahwa kelelahan fisik dan mental bukan menjadi halangan untuk kalian, dan banggalah karena itu, bukan karena kalian telah menaklukan gunung ini…”
    Pk. 17.35, tim ekspedisi turun ke Pos Pendakian (barameru) dan akhirnya senin (25 juni 2012 Pk. 21.00), rekan2 sampai dengan selamat di pati.

    by Fajri Muttaqin

    Ekspedisi Merapi 2012

    Posted at  08.03  |  in  Pengalaman Mendaki  |  Read More»

    Tim Ekspedisi Merapi 2012

    Paresmapa XXIV: Budi, Saka, Ali, Danang, Dhini, Chaca

    Alumni: Jojk, Agus Armanto (mukri), Alif, Zaenuri, Uyung, Enggar, Bagas
    + Mas Dwi Julianto (rekan dari semarang)

    -Tim Ekspedisi Gng. Merapi (Paresmapa) dan Mas Dwi Julianto (pake baju lurik)-
    Minggu, 24 juni 2012

    Pk. 01.30

    Mataku belum terpejam, badan ini masih ingin menikmati dingin malam, bersama kegelapan seadanya. Samar-samar logo dari tenda biru didepanku terlihat, bayangan gelap seorang pendaki dengan tas carrier dipundaknya dan sebuah tongkat di genggaman tangannya, seperti menemani anak2 didalam tenda sedang beristirahat, entah tertidur atau hanya berpejam buta sambil menahan hawa dingin udara di New Selo.

    “Perjalanan belum dimulai, istirahatlah…” mungkin dia berkata seperti itu.
    “Sebentar lagi waktunya mereka bangun…” balasku.
    “Nyalakan 1 batang rokok dulu biar kamu tidak terlalu kedinginan…” akhir kata darinya.

    Menghisap 1 batang rokok ini, cukup untuk membawaku kembali ke perjalanan awal tadi, kilasan-kilasan ceritanya pun berputar di kepala: (Pk. 08.00) berkumpul di Terminal Pati bersama rekan2  angkatan 23 serta rekan lain yang ikut mengantar tim ekspedisi;-wiwiek[22],dinda-, pesan dari Lek Sus n mas Sidiq Subroto, berfoto bersama, (Pk. 11.00) bertemu rekan alumni lain (Mas Zaenuri) di Terminal Semarang, Debat dengan kondektur Bis Semarang-Solo, (Pk. 15.00) Dapet Carteran Murah Bis Mini Boyolali-Selo, Mampir di rumah Pak Sarju (ex-penerima bantuan dari rekan2 pati ketika bencana merapi 2010 silam), (Pk. 20.00) Masak dan makan bersama Bihun ala Pak Agus (Mas Mukri) @Camp New Selo, sampai kejadian yang terakhir tadi saat sebelum istirahat, kedatangan tamu bapak2 polisi selo yang salah satunya ternyata orang pati juga.
    awal perjalanan yang cukup hangat, dan sebentar lagi mereka akan memulai lagi cerita perjalanan yang lain.
    Pk.02.00
    Dari yang gelap,sunyi dan sepi, tiba2 berganti dengan kesibukan rekan2 yang sedang packing tas dan carrier masing2, mengambil air untuk bekal selama pendakian, packing tenda, sementara saya, sambil menikmati kopi bangka titipan dari mas Wahyu adi, sesekali mengingatkan: “jangan ada yang tertinggal selain jejak kita disini”, sontak setelah selesai packing rekan2 berlanjut bersih2 lokasi camp.

    30 menit berlalu, rekan2 sudah siap, dan lokasi camp sudah bersih, minimal dari sampah rekan2 sendiri. Kemudian, sebelum berangkat saya adakan briefing sebentar untuk menjelaskan medan yang akan dilalui rekan2 selanjutnya. Dan selalu berpesan kepada mereka, “setelah ini barulah kita akan mendaki sebenernya, kita datang bareng-bareng 1 tim, maka kita turun juga 1 tim, jangan ada yang duluan dan jangan ada yang tertinggal”… briefing saya akhiri dengan berdoa bersama dan selanjutnya seperti biasa: Paresmapa… Jaya!!! (motivasi ampuh ala rekan2 paresmapa)
    Pk. 02.45
    Minggu dini hari, 13 pendaki yang sebagiannya masih pemula (11 cowok dan 2 Cewek) mendaki rintangan pertama gunung merapi yaitu jalur dari New Selo – Pos I (Gerbang Perhutani/BTNMerbabu-Merapi). Jalur yang dilalui berupa jalan berpasir yang sedikit menanjak dengan kemiringan 30o. Medan awal ini tampaknya seperti memberikan pemanasan yang cukup berat. Maklum karena banyak yang baru pertama kali ini mendaki gunung dengan ketinggian diatas 2500m. Alhasil, jalur ini dilalui dengan waktu 2 jam perjalanan.

    Sampai di POS I Pk. 04.30,
    matahari pagi sudah menampakkan sinar jingganya di ufuk barat. Dengan Ketinggian sekitar 1600m, rekan2 berhenti sejenak untuk menikmati sunrise sambil beristirahat dan sarapan pagi. Menu kali ini spesial dari Pak Agus (Mukri) berupa Bubur Bayi rasa pisang+Susu Coklat+Roti tawar. Saya rasa matahari pagi yang pelan2 beranjak naik dan menu sarapan dari mas mukri, memberikan suntikan semangat baru bagi rekan2, tampak mereka asik bercanda dan berfoto bersama, mengagumi keindahan lembah selo, dan juga gunung merbabu yang megah berdiri di depan mereka.

    -sunrise @pos I jalur pendakian merapi via selo-
    -Sunrise dgn latar lembah Selo dan kaki Gng. Merbabu-
    Vegetasi di sepanjang jalur didominasi oleh pohon pohon pinus yang menjulang dengan ketinggian rata rata 10m, Rindangnya pohon pohon ini memberi udara pagi hari yang sejuk,dan menyegarkan suasana selama pendakian menuju Pos selanjutnya yaitu Pos II (Tugu). Rekan2pun menikmatinya sambil bercanda, namun setelah 1 jam, semua itu terganggu oleh debu pasir yang berterbangan. Sebab sudah banyak rombongan pendaki lain yang turun. Dalam posisi turun, mereka (rombongan yang turun) bergerak cepat sambil sedikit berlari, sehingga debu pasir berterbangan terbawa udara yang secara otamatis pasti naik keatas.
    Pk. 09.00
    Sebuah tanah datar kira-kira 500m di bawah Pos II, rekan2 memilih beristirahat, sekitar 30 menit, sambil membasahi tenggorokan yang sudah kering, karena matahari yang mulai terik, dan juga mengganjal perut yang lapar dengan roti. Sudah hampir 2 jam lebih rekan2 mendaki trek yang lumayan terjal dan pastinya tenagapun terkuras cukup banyak. Sayapun ikut menikmati istirahat mereka dengan 1 batang rokok dan sedikit-sedikit memberi tambahan motivasi buat rekan2.

    “masih lama mas?” tanya salah satu rekan angkatan 23.
    “kira2 bukit diatas itu udah Pos II, disana kita istirahat lagi dan makan siang…” jawabku sambil menghembuskan asap rokok pelan2. “bukit itu mas?” tanya rekan 24 yang lain.
    “iya..” jawabku setengah memahami nada kelelahan-nya,
    “wah, masih tinggi jg tho..” keluh dia,
    “kalo naiknya sambil ngeluh ya rasanya berat, tapi kalo naeknya sambil dinikmati, ga kerasa kok beratnya.. capek iya, tapi ada hal lain yang bikin capeknya ilang, lihat aja diatas ntar..” jawabku sambil menyemangati.

    Pk. 11.50
    tanjakan terjal yang membuat salah satu rekan merasa berat, akhirnya terlewati. Vegetasi yang ada sudah didominasi oleh tanaman perdu, ini berarti rekan2 sudah berada di ketinggian diatas 2000m, dan sebentar lagi pastiya udah POS II yang letaknya ga jauh dari Pasar Bubrah (Pos Terakhir sebelum puncak merapi). Dan…  dari atas bukit juga udah tampak Puncak Merapi yang seperti menyapa rekan2 tanpa terbalut satupun helai awan. Inilah yang saya maksud sebagai pengobat lelah, pemandangan yang jarang kita temui di deket rumah.

    -view puncak merapi @Pos II Tugu (atas), view Gng. Merbabu (bawah)-
    Rekan2 masih terkagum-kagum dengan pemandangan dihadapan mereka itu. Belum lagi di belakang (sebelah utara) pemandangan awan putih yang menutupi punggung Gng. Merbabu tak kalah menarik untuk dinikmati. Sesaat kelelahan mereka terobati. Akhirnya selama hampir 1 jam lebih, kami  istirahat di Pos II (Tugu), sambil makan siang dan menikmati udara dingin siang hari pegunungan yang memang seakan memaksa untuk tertidur dalam belaiannya.
    Pk.13.00
    “om, disini udah ada edelwies belum om?” tanya salah satu rekan angkatan 23
    “ada, kalo mau turun ke bawah dikit, yang dibawah udah ada kembangnya..” jawabku yang memang dari tadi mencari tanaman edelwies yang udah berbunga.
    “kenapa owk edelwies dinamakan bunga abadi om?” kembali dia bertanya,
    “karena awet, kalo dibawa turun, bunganya bisa tahan ga rusak sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, ceritanya orang2 si gitu.. saya blum pernah ngambil bawa soalnya” jawabku.

    Tak jauh dari lokasi istirahat (sekitar Pos II), pohon edelwies dengan bunganya yang mulai mekar dapat dilihat, namun lokasinya yang berada di pinggiran tebing, hanya rekan2 cowok saja yang bisa merambah sampai dekat. Edelwies merupakan tanaman khas daerah pegunungan, tanaman ini hanya dapat dijumpai di ketinggian lebih dari 2000mdpl. Bagi kalangan pendaki bunga edelweis dikenal dengan bunga abadi. Sering sekali pendaki yang nakal akan memetik bunganya sebagai oleh2 pendakian, satu hal yang menjadi keprihatinan sebenernya. Dan rekan2 juga dapet pesan yang sama dari Lek Sus, edelwies hanya boleh diambil gambarnya saja alias hanya boleh difoto.
    Pk.14.15
    Perjalanan berlanjut lagi, kali ini bebannya agak berkurang, tas carrier dan perlengkapan yang lain ditinggal di camp deket Pos II. Alat dan logistik yg dibawa ke atas hanya air, beberapa snack secukupnya, masker, dan webbing. Ini karena medan yang dilalui adalah berbatu batu, sedikit vegetasi, dan tak jarang gas belerang keluar disela-sela jalur.  Selain daya tahan fisik, ketahanan mental pun akan makin di uji di sepanjang jalur ke atas.

    -view jalur pendakian dari Pos II ke Puncak Merapi-
    -Trek jalur menuju Pasar Bubrah sebelum puncak Merapi-
    Tepat Pk. 15.10 Tim ekspedisi merapi sampai di Pasar Bubrah (>2600mdpl)
    Setelah melewati trek terjal dengan dominasi batu batu yang labil, tim berhasil sampai di sebuah lokasi yang dinamakan Pasar Bubrah. Lokasi ini merupakan tanah datar seukuran 3x lapangan bola, tidak ada vegetasi, hanya ada bebatuan besar dan kecil yang berserakan, serta pasir abu dari sisa letusan tahun 2010 kemarin. Dari Pasar bubrah tampak dengan megah dan lebih dekat lagi, Puncak Merapi. (Inilah wajah puncak merapi dilihat dari Pasar Bubrah)

    -bareng2 @Pasar Bubrah dengan view Puncak Merapi-
    Waktu sudah sore Pk. 16.00 ketika saya meminta yang lain untuk berkumpul. Dari tadi rekan2 sibuk merekam pencapaian mereka di ekspedisi kali ini. Memang rekan2 tidak dapat mendaki sampai puncak karena terbatasnya waktu, namun perjuangan mereka yang masih masuk kategori pemula untuk gunung setinggi merapi, layak mendapat apresiasi.
    “bukan masalah gunung dan puncaknya yang tertaklukkan, tapi diri kalian sendiri yang harus ditaklukan… puncak pencapaian adalah dimana kita bisa mengalahkan diri kita sendiri… tempat ini bukti bahwa kelelahan fisik dan mental bukan menjadi halangan untuk kalian, dan banggalah karena itu, bukan karena kalian telah menaklukan gunung ini…”
    Pk. 17.35, tim ekspedisi turun ke Pos Pendakian (barameru) dan akhirnya senin (25 juni 2012 Pk. 21.00), rekan2 sampai dengan selamat di pati.

    by Fajri Muttaqin

    0 komentar:

    Rabu, 01 Februari 2012

    (Catatan Perjalanan Ke Puncak Watu Payon)
    Puncak Watu Payon merupakan salah satu puncak di pegunungan muria, tepatnya puncak dari Gunung Termulus, bagian paling timur dari pegunungan muria. Belum banyak pecinta alam yang mendaki ke sana karena mungkin namanya kurang begitu familiar dari pada Puncak Argo Jembangan dan Puncak Sapto Renggo.
    Sama seperti puncak-puncak di pegunungan muria pada umumnya (puncak2 umum yang sering di daki), puncak Watu Payon juga punya “wajah yang sama” yaitu penuh aroma mistis, namun daya mistis dari puncak dengan ketinggian kurang lebih 1500 mdpl ini berbeda dari yang lain, nuansa mistis yang lebih kental karena masih di selimuti tebal bermacam jenis flora alami, mungkin daya tarik itu pula yang membuat saya dan beberapa rekan mulai sering mendaki ke sana, bukan karena mistisnya, tapi karena flora-flora unik yang hidup di sekitar puncaknya. Beberapa dari jenis flora mungkin dapat dengan mudah kita kenali, seperti dari tumbuhan paku, namun yang membuat saya tertarik adalah adanya flora mini yang hidup bebas di sekitar puncak, termasuk di monumen purba, yang oleh penduduk di kenal dengan nama“Watu Payon”, mungkin dari nama monumen itu juga asal muasal nama puncak dari gunung ini.
    Sejak dari pagi pukul 09.00 WIB saya dan seorang rekan telah tiba di Desa Gunung Sari, sebuah desa di kaki Gunung Termulus. Kami putuskan untuk menunggu rekan kami yang lain yang berangkat belakangan di rumah salah satu penduduk desa. Keramahan warga desa segera tertangkap dari aroma kopi panas yang dihidangkan dengan beberapa cemilan daerah, kamipun menyambutnya dengan antusias, nikmat yang tidak akan pernah bisa kami dapatkan di kota. Ditemani obrolan ringan kami pun tak sadar ternyata kopi segelas sudah habis sebelum sempat dingin karena cuaca di luar pun menjadi gelap mendung pertanda akan ada hujan malam ini. Penduduk desa, terutama tuan rumah yang kami singgahi, sering heran kenapa dengan kondisi cuaca seperti ini, kami tetap melanjutkan niat untuk mendaki puncak watu payon, beliau yang tinggal di kaki gunung saja jarang mendaki kesana, hanya 2 kali seumur hidup. Salah satu alasan saya adalah karena gunung bagi saya bagai rumah ke kedua, apapun yang terjadi, tetap yang saya rasakan adalah sebuah kenyamanan, kehangatan, dan kenikmatan walau harus kedinganan, kehujanan dan kelelahan. Setelah puas menyapa tuan rumah dan beberapa anggota keluarganya, kami pamit untuk berjalan santai di jalur pendakian sambil menunggu rekan yang lain tiba, yang sebelumnya mengirim pesan bahwa mereka sedang tertahan masalah kendaraan yang mogok. Jalur yang akan kami lewati merupakan jalur yang sudah sering kami lalui jika muncak ke Termulus, kami pun iseng2 menamakan beberapa jalur dengan istilah kami sendiri disesuaikan dengan medan yang ada tentunya, seperti “tanjakan cinta”,“tanjakan patah hati”, dan “pintu gerbang puncak”.
    Satu jam kemudian rekan2 yang lain pun telah menyusul kami yang sedang beristirahat di tengah perjalanan, salah satu dari mereka baru pertama kali mendaki ke sini, jadi terlihat sudah kelelahan setelah melewati “tanjakan cinta”, tanjakan ini sebenarnya tidak terlalu besar elevasinya, namun karena jaraknya yang panjang, dan harus berjalan di sisi tebing, mungkin akan sedikit banyak menguras energi (tenaga & mental). Untuk pendaki pemula, jalur tanjakan cinta ditempuh dalam waktu sekitar 1 – 1,5 jam perjalanan, dengan start dari desa kemudian menuju hutan pinus dan kebun kopi, namun bagi yang telah punya cukup pengalaman mendaki, mungkin hanya akan menghabiskan waktu setengahnya.
    Selain flora khas hutan hujan, beberapa fauna yang hidup dalam hutan heterogen di sepanjang jalur pendakian menuju puncak akan sering kita jumpai, seperti burung2 liar yang berkicau sepanjang jalur hutan pinus hingga ke sungai sebelum tanjakan patah hati dan jika jeli serta didukung dengan sedikit keberuntungan, mungkin kita bisa mendapatkan pemandangan langka yang sangat jarang di temui di pegunungan muria, yaitu Lutung liar. Sejauh ini saya hanya pernah bertemu sekali, sebuah pemandangan yang langka dan ironis kalau kita membayangkan bila kelak di pegunungan ini sedianya akan di bangun  PLTN, karena desakan dari pembukaan lahan untuk kebun penduduk saja telah mempersempit habitat mereka. Sayang pada saat itu saya tidak membawa kamera jadi momen tersebut hanya bisa di bagi lewat cerita.
    Ditengah perjalanan, diantara lebatnya pepohonan dan kicauan burung, terdapat sebuah sungai yang jaraknya tidak begitu jauh dari jalur pendakian, sungai ini akan mengalir ke sebuah air terjun dengan ketinggian hampir 25 m. Air terjun ini hanya bisa kita nikmati dari kejauhan karena berada di lembah yang curam, namun keindahan alam ini bagi saya sebaiknya kita biarkan apa adanya, eksotisme darinya mungkin hanya dapat kita rasakan dari kejauhan. kelestarianlah yang harusnya kita jaga, bukan keinginan mengeksploitasinya tanpa pertanggung jawaban.
    air terjun sebelum sampai "gerbang puncak"
    Perjalanan dari sungai menuju puncak memakan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan, melewati sebuah tebing menanjak yang curam dan lumayan panjang jaraknya sehingga bagi pendaki pemula akan banyak menguras energi, namun semua itu akan terobati dengan pemandangan flora-flora alami sepertipohon meranti dan pohon ara yang menjulang rimbun melindungi jalur pendakian dari terobosan cahaya matahari. Beberapa macam tumbuhan pakupakuan berjajar rapi di sebuah punggungan bukit melengkapi lansekap alam sembari menuju sebuah gerbang yang terbentuk secara alami dari pohon tumbang yang dipenuhi dengan anggrek gunung. Dan pada akhir jalur, puncak Watu Payon menyambut kita dengan kerindangan pohon-pohon dan satu buah gubuk tua beratap seng, yang sering di gunakan peziarah gunung dan pendaki untuk menginap.
    Nuansa mistis akan segera terasa memancar dari sebuah monumen peninggalan masa lalu yang berdiri tegap di atas sebuah karpet hijau alam, bersama makam di kanan dan belakangnya, kisah sejarah masa lampau terpendam kuat di dasarnya. Tanahnya yang subur menjadikan ruang ekologi di atas puncak ini menumbuhkan berbagai macam flora seperti berbagai macam tumbuhan mungil yang unik termasuk di atas monumen watu payon. Beberapa diantaranya teridentifikasi sebagai lumut (Bryophyta), terdiri dari beberapa species yang tentunya menambah keberagaman dunia lain di atas tanahnya yang selalu basah.
    Salah satu Lumut yang ada disekitar puncak
    Suasana mistis yang berbalut keindahan aneka ragam flora menjadikan puncak watu payon memiliki wajah yang berbeda dari puncak-puncak di muria pada umumnya, tumpukan daun berserakan di sekitar makam terkesan tempat ini jarang di jejaki oleh para pendaki maupun peziarah. Bagi para pendaki, khususnya pendaki muda, keunikan alam di puncak Watu Payon dapat menjadi sebuah misteri yang bukan untuk di pecahkan ataupun di gali tentang sejarah keberadaannya, namun misteri bagaimana mempertahankan eksotisme alam di atas keegoisan kita untuk menjelajah dan meninggalkan jejak-jejak kotor kita.
    Dengan semakin menurun-nya kesadaran kita tentang ekologi lingkungan, kekhawatiran saya akan terwujud, karena pada saatnya kita hanya bisa bercerita tentang keberadaannya dan tidak bisa lagi menikmatinya secara langsung. Namun di atas kekhawatiran itu, puncak Watu Payon telah memberikan saya semangat baru bagi dunia yang penuh dengan kenyataan dan ke-ghaiban, yaitu perasaan untuk menjaga dan mempertahankan hutan mungil yang tersusun dari ribuan tumbuhan bryophyta di dalamnya sebagai dunia lain dari dunia lain yang ikut mengisi kehidupan relung dan bahkan komunitas hayati di atas puncak gunung termulus ini.

    Dunia Lain di Puncak Watu Payon

    Posted at  08.16  |  in  Pengalaman Mendaki  |  Read More»

    (Catatan Perjalanan Ke Puncak Watu Payon)
    Puncak Watu Payon merupakan salah satu puncak di pegunungan muria, tepatnya puncak dari Gunung Termulus, bagian paling timur dari pegunungan muria. Belum banyak pecinta alam yang mendaki ke sana karena mungkin namanya kurang begitu familiar dari pada Puncak Argo Jembangan dan Puncak Sapto Renggo.
    Sama seperti puncak-puncak di pegunungan muria pada umumnya (puncak2 umum yang sering di daki), puncak Watu Payon juga punya “wajah yang sama” yaitu penuh aroma mistis, namun daya mistis dari puncak dengan ketinggian kurang lebih 1500 mdpl ini berbeda dari yang lain, nuansa mistis yang lebih kental karena masih di selimuti tebal bermacam jenis flora alami, mungkin daya tarik itu pula yang membuat saya dan beberapa rekan mulai sering mendaki ke sana, bukan karena mistisnya, tapi karena flora-flora unik yang hidup di sekitar puncaknya. Beberapa dari jenis flora mungkin dapat dengan mudah kita kenali, seperti dari tumbuhan paku, namun yang membuat saya tertarik adalah adanya flora mini yang hidup bebas di sekitar puncak, termasuk di monumen purba, yang oleh penduduk di kenal dengan nama“Watu Payon”, mungkin dari nama monumen itu juga asal muasal nama puncak dari gunung ini.
    Sejak dari pagi pukul 09.00 WIB saya dan seorang rekan telah tiba di Desa Gunung Sari, sebuah desa di kaki Gunung Termulus. Kami putuskan untuk menunggu rekan kami yang lain yang berangkat belakangan di rumah salah satu penduduk desa. Keramahan warga desa segera tertangkap dari aroma kopi panas yang dihidangkan dengan beberapa cemilan daerah, kamipun menyambutnya dengan antusias, nikmat yang tidak akan pernah bisa kami dapatkan di kota. Ditemani obrolan ringan kami pun tak sadar ternyata kopi segelas sudah habis sebelum sempat dingin karena cuaca di luar pun menjadi gelap mendung pertanda akan ada hujan malam ini. Penduduk desa, terutama tuan rumah yang kami singgahi, sering heran kenapa dengan kondisi cuaca seperti ini, kami tetap melanjutkan niat untuk mendaki puncak watu payon, beliau yang tinggal di kaki gunung saja jarang mendaki kesana, hanya 2 kali seumur hidup. Salah satu alasan saya adalah karena gunung bagi saya bagai rumah ke kedua, apapun yang terjadi, tetap yang saya rasakan adalah sebuah kenyamanan, kehangatan, dan kenikmatan walau harus kedinganan, kehujanan dan kelelahan. Setelah puas menyapa tuan rumah dan beberapa anggota keluarganya, kami pamit untuk berjalan santai di jalur pendakian sambil menunggu rekan yang lain tiba, yang sebelumnya mengirim pesan bahwa mereka sedang tertahan masalah kendaraan yang mogok. Jalur yang akan kami lewati merupakan jalur yang sudah sering kami lalui jika muncak ke Termulus, kami pun iseng2 menamakan beberapa jalur dengan istilah kami sendiri disesuaikan dengan medan yang ada tentunya, seperti “tanjakan cinta”,“tanjakan patah hati”, dan “pintu gerbang puncak”.
    Satu jam kemudian rekan2 yang lain pun telah menyusul kami yang sedang beristirahat di tengah perjalanan, salah satu dari mereka baru pertama kali mendaki ke sini, jadi terlihat sudah kelelahan setelah melewati “tanjakan cinta”, tanjakan ini sebenarnya tidak terlalu besar elevasinya, namun karena jaraknya yang panjang, dan harus berjalan di sisi tebing, mungkin akan sedikit banyak menguras energi (tenaga & mental). Untuk pendaki pemula, jalur tanjakan cinta ditempuh dalam waktu sekitar 1 – 1,5 jam perjalanan, dengan start dari desa kemudian menuju hutan pinus dan kebun kopi, namun bagi yang telah punya cukup pengalaman mendaki, mungkin hanya akan menghabiskan waktu setengahnya.
    Selain flora khas hutan hujan, beberapa fauna yang hidup dalam hutan heterogen di sepanjang jalur pendakian menuju puncak akan sering kita jumpai, seperti burung2 liar yang berkicau sepanjang jalur hutan pinus hingga ke sungai sebelum tanjakan patah hati dan jika jeli serta didukung dengan sedikit keberuntungan, mungkin kita bisa mendapatkan pemandangan langka yang sangat jarang di temui di pegunungan muria, yaitu Lutung liar. Sejauh ini saya hanya pernah bertemu sekali, sebuah pemandangan yang langka dan ironis kalau kita membayangkan bila kelak di pegunungan ini sedianya akan di bangun  PLTN, karena desakan dari pembukaan lahan untuk kebun penduduk saja telah mempersempit habitat mereka. Sayang pada saat itu saya tidak membawa kamera jadi momen tersebut hanya bisa di bagi lewat cerita.
    Ditengah perjalanan, diantara lebatnya pepohonan dan kicauan burung, terdapat sebuah sungai yang jaraknya tidak begitu jauh dari jalur pendakian, sungai ini akan mengalir ke sebuah air terjun dengan ketinggian hampir 25 m. Air terjun ini hanya bisa kita nikmati dari kejauhan karena berada di lembah yang curam, namun keindahan alam ini bagi saya sebaiknya kita biarkan apa adanya, eksotisme darinya mungkin hanya dapat kita rasakan dari kejauhan. kelestarianlah yang harusnya kita jaga, bukan keinginan mengeksploitasinya tanpa pertanggung jawaban.
    air terjun sebelum sampai "gerbang puncak"
    Perjalanan dari sungai menuju puncak memakan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan, melewati sebuah tebing menanjak yang curam dan lumayan panjang jaraknya sehingga bagi pendaki pemula akan banyak menguras energi, namun semua itu akan terobati dengan pemandangan flora-flora alami sepertipohon meranti dan pohon ara yang menjulang rimbun melindungi jalur pendakian dari terobosan cahaya matahari. Beberapa macam tumbuhan pakupakuan berjajar rapi di sebuah punggungan bukit melengkapi lansekap alam sembari menuju sebuah gerbang yang terbentuk secara alami dari pohon tumbang yang dipenuhi dengan anggrek gunung. Dan pada akhir jalur, puncak Watu Payon menyambut kita dengan kerindangan pohon-pohon dan satu buah gubuk tua beratap seng, yang sering di gunakan peziarah gunung dan pendaki untuk menginap.
    Nuansa mistis akan segera terasa memancar dari sebuah monumen peninggalan masa lalu yang berdiri tegap di atas sebuah karpet hijau alam, bersama makam di kanan dan belakangnya, kisah sejarah masa lampau terpendam kuat di dasarnya. Tanahnya yang subur menjadikan ruang ekologi di atas puncak ini menumbuhkan berbagai macam flora seperti berbagai macam tumbuhan mungil yang unik termasuk di atas monumen watu payon. Beberapa diantaranya teridentifikasi sebagai lumut (Bryophyta), terdiri dari beberapa species yang tentunya menambah keberagaman dunia lain di atas tanahnya yang selalu basah.
    Salah satu Lumut yang ada disekitar puncak
    Suasana mistis yang berbalut keindahan aneka ragam flora menjadikan puncak watu payon memiliki wajah yang berbeda dari puncak-puncak di muria pada umumnya, tumpukan daun berserakan di sekitar makam terkesan tempat ini jarang di jejaki oleh para pendaki maupun peziarah. Bagi para pendaki, khususnya pendaki muda, keunikan alam di puncak Watu Payon dapat menjadi sebuah misteri yang bukan untuk di pecahkan ataupun di gali tentang sejarah keberadaannya, namun misteri bagaimana mempertahankan eksotisme alam di atas keegoisan kita untuk menjelajah dan meninggalkan jejak-jejak kotor kita.
    Dengan semakin menurun-nya kesadaran kita tentang ekologi lingkungan, kekhawatiran saya akan terwujud, karena pada saatnya kita hanya bisa bercerita tentang keberadaannya dan tidak bisa lagi menikmatinya secara langsung. Namun di atas kekhawatiran itu, puncak Watu Payon telah memberikan saya semangat baru bagi dunia yang penuh dengan kenyataan dan ke-ghaiban, yaitu perasaan untuk menjaga dan mempertahankan hutan mungil yang tersusun dari ribuan tumbuhan bryophyta di dalamnya sebagai dunia lain dari dunia lain yang ikut mengisi kehidupan relung dan bahkan komunitas hayati di atas puncak gunung termulus ini.

    0 komentar:

    About-Privacy Policy-Contact us
    Copyright © 2013 PARESMAPA || Pencinta Alam Remaja SMA Negeri 1 Pati ||. Template by Bloggertheme9
    Powered by Paresmapa Team.
    back to top