• Galeri

    Pencinta Alam Remaja SMA N 1 Pati

  • Prestasi

    Prestasi Paresmapa

  • Tentang PARESMAPA

    Sejarah

  • Artikel

    Berita Terbaru

  • Kamis, 14 Desember 2017

    8 Tanaman Obat Saat Survival di Hutan

     1. Tanaman Putri Malu
    Tanaman ini dapat digunakan untuk mengobati insomnia, panas pada anak-anak, cacingan, dan herpes

    2.      Daun Kopi

    Dapat digunakan sebagai obat maag dan hipertensi

          3.      Tanaman Boroco



    Rebusan bijinya dapat digunakan untuk obat infeksi mata

         4.      Daun Meniran


    Daun ini dapat digunakan untuk mengobati batuk, malaria, diare, luka bakar, dan ayan

          5.      Buah Mengkudu


    Dapat digunakan untuk mengobati asma, kembung, muntah-muntah, diare, dll

          6.      Alang-alang


    Dapat digunakan sebagai pereda demam, menghentikan pendarahan, penghilang rasa haus, bengkak, mimisan, flu, dan sesak nafas

         7.      Getah Daun Jarak


    Getah digunakan sebagai obat antiseptik dan pengering luka

         8.      Ciplukan


    Dapat menyembuhkan patah tulang, bisul, keseleo, dan nyeri perut
    Posted at  12.55  |  in    |  Read More»

    8 Tanaman Obat Saat Survival di Hutan

     1. Tanaman Putri Malu
    Tanaman ini dapat digunakan untuk mengobati insomnia, panas pada anak-anak, cacingan, dan herpes

    2.      Daun Kopi

    Dapat digunakan sebagai obat maag dan hipertensi

          3.      Tanaman Boroco



    Rebusan bijinya dapat digunakan untuk obat infeksi mata

         4.      Daun Meniran


    Daun ini dapat digunakan untuk mengobati batuk, malaria, diare, luka bakar, dan ayan

          5.      Buah Mengkudu


    Dapat digunakan untuk mengobati asma, kembung, muntah-muntah, diare, dll

          6.      Alang-alang


    Dapat digunakan sebagai pereda demam, menghentikan pendarahan, penghilang rasa haus, bengkak, mimisan, flu, dan sesak nafas

         7.      Getah Daun Jarak


    Getah digunakan sebagai obat antiseptik dan pengering luka

         8.      Ciplukan


    Dapat menyembuhkan patah tulang, bisul, keseleo, dan nyeri perut

    Rabu, 06 Desember 2017

    10 Jenis Ular yang Paling Mematikan

    1. Fierce Snake or Inland Taipan



              Ular yang dikenal dengan nama latin Oxyuranus microlepidotus terdapat di benua Australia. Panjang ular ini antara 1,8 - 2,5 meter. Ular ini dinobatkan sebagai ular paling berbisa di dunia. Bayangkan dengan hanya sekali gigitan ular ini mampu mengeluarkan 44 - 110 mg yang racunnya mampu membunuh 110 orang manusia dewasa atau 250.000 tikus atau setara dengan dosis racun 50 kali ular jenis King Cobra. Namun ular ini sangat pemalu dan biasanya mengelak bertemu dengan hewan lain atau manusia, kecuali jika diancam.

    2. Australian Brown Snake

               Ular dengan nama latin Pseudonaja textilis ini berhabitat di Benua Australia, Papua Nugini, dan Indonesia. Panjang ular ini antara 1,1 - 2,1 meter dan beraktifitas di siang hari. Setiap gigitan ular ini mengeluarkan sekitar 2 - 10 mg racun yang artinya mampu membunuh sekitar 100 - 200 orang per gigitan. Gejala yang ditimbulkan oleh racun ini yaitu pusing, diare, kelumpuhan, gagal jantung, bahkan kematian apabila tidak ditangani dengan cepat.

    3. King Brown Snake


                 Habitat ular dengan nama latin Pseudechis australis ini tersebar di Benua Australia. Ular King Brown tercatat sebagai ular berbisa terpanjang di dunia dengan panjang 2,5 - 3 meter. Ular paling berbisa urutan ketiga ini mampu menyuntikkan racun sampai 150 mg dengan sekali gigitan, yang mana dosisnya dapat membunuh 100 orang. Sifat racunnya bersifat myotoxin yaitu melumpuhkan mangsa. Jika manusia tergigit harus segera ditangani dengan cepat dan diberi penawar racun.

    4. Saw Scaled Viper

                    Habitat ular dengan nama latin Echis carinatus ini tersebar di kawasan yang kering dan banyak terdapat di Afrika, Timur Tengah, Pakistan, India dan Sri Lanka. Panjang ular ini berkisar 38 - 80 cm dan aktif pada malam hari. Dalam satu kali gigitan ular ini mampu menyuntikkan racun antara 12 - 18 mg, dimana 5 mg mampu membunuh seorang manusia dewasa dalam waktu 12 - 24 jam setelah tergigit. Anti racun untuk ular jenis ini pun sangat langka bahkan beberapa laporan mengatakan persentase kematian orang yang tergigit mencapai 20%.

    5. Many Banded Krait



                   Habitat ular dengan nama latin Bungarus multicinctus ini tersebar di China, Taiwan, dan negara-negara Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Di Indonesia ular ini sering dikenal dengan nama ular weling, ular belang, ular warakas. Panjang ular ini 1 - 1,85 meter dan mampu menyuntikkan racun 4,6 - 19,4 mg per sekali gigitan. Gejala yang ditimbulkan apabila tergigit oleh ular ini yaitu terasa gatal dan mati rasa di daerah sekitar gigitan. Sekitar 1 - 6 jam kemudian korban akan merasa sesak nafas, pengelihatan yang kabur, sakit di sekujur badan, kehilangan suara, dan apabila dibiarkan dapat menyebabkan kematian. Seorang dokter di Myanmar dilaporkan meninggal 29 jam setelah tergigit. Beberapa laporan bahkan menyatakan bahwa tingkat kematian korban mencapai 75 - 100%.

    6
    . Tiger Snake


                     Habitat dengan ular paling berbisa keenam dengan nama latin Notechis scutatus ini tersebar di selatan dan barat Benua Australia. Panjang ular ini berkisar 0,9 - 2,9 meter dan ular ini aktif di malam hari saat suhu udara hangat. Gigitan ular ini dapat mengakibatkan kesemutan, mati rasa, dan berkeringat, kesulitan bernapas dan kelumpuhan. Beberapa laporan mengatakan bahwa tingkat kematian korban ular Tiger Snake ini mencapai 40 - 60%.

    7. Black Mamba


                   Sesuai dengan namanya yang melegenda, ular berwarna khas hitam di mulut dengan nama latin Dendroaspis polylepis merupakan ular yang paling mematikan di dunia urutan ketujuh. Habitat ular ini berada di Benua Afrika dan mempunyai panjang 2 - 3 meter. Kecepatan ular Black Mamba dapat mencapai 16 km/jam dan ketika menyuntikkan racun antara 100 - 120 mg per gigitan. Korban yang tergigit akan lumpuh dalam waktu 45 menit dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu 7 - 15 jam apabila tidak mendapat perawatan segera.

    8. King Cobra


                 Satu lagi ular yang namanya sudah melegenda dan dikenal luas di Indonesia, King Cobra (Ophiophagus hannah). Habitat ular ini terdapat di kawasan Asia Timur dan Tenggara termasuk Indonesia. King Cobra termasuk tipe ular yang agresif dan bahkan dapat memangsa ular lain yang lebih kecil. Seekor King Cobra dapat menyuntikkan racun antara 200 - 500 mg per gigitan yang cukup membunuh seekor gajah dalam waktu 1 jam. Ketika sesorang dipatuk oleh King Cobra gejala gigitan ular menyebabkan kelumpuhan, sakit yang luar biasa di seluruh tubuh, pandangan yang kabur, dan dibutuhkan antitoxin dalam jumlah yang besar untuk menangkal racun tersebut. Beberapa laporan tingkat kematian korban gigitan King Cobra mencapai 28%.

    9. Death Adder

                Di urutan kesembilan ular paling mematikan di dunia yaitu Death Adder (Acanthophis antarcticus). Habitat ular ini terdapat di Timur dan Selatan Australia dan memiliki panjang 70 - 100 cm. Ular ini dapat menyerang dengan cepat dan setelah korban terkena gigitan ini dapat mengakibatkan kelumpuhan. Reaksi racun Death Adder sangat cepat dan dapat menyebabkan kematian jika dalam waktu 6 jam seseorang yang terkena gigitan tidak mendapat perawatan.

    10. Mojave Rattlesnake

                 Ular yang paling berbahaya di dunia yang urutan ke sepuluh dikenal di dengan nama Rattlesnake atau ular derik (Crotalus scutulatus). Ular ini mempunyai panjang 100 - 138 cm dan dikenal karena kemampuannya mengeluarkan suara dari ekornya ketika merasa terancam. Gejala setelah tergigit ular derik sesorang akan merasa kesulitan menelan dan berbicara, pandangan kabur, kelumpuhan otot, kesulitan dan kegagalan bernafas. Tingkat kematian yang disebabkan oleh ular ini antara 5 - 20%.
    Posted at  13.30  |  in    |  Read More»

    10 Jenis Ular yang Paling Mematikan

    1. Fierce Snake or Inland Taipan



              Ular yang dikenal dengan nama latin Oxyuranus microlepidotus terdapat di benua Australia. Panjang ular ini antara 1,8 - 2,5 meter. Ular ini dinobatkan sebagai ular paling berbisa di dunia. Bayangkan dengan hanya sekali gigitan ular ini mampu mengeluarkan 44 - 110 mg yang racunnya mampu membunuh 110 orang manusia dewasa atau 250.000 tikus atau setara dengan dosis racun 50 kali ular jenis King Cobra. Namun ular ini sangat pemalu dan biasanya mengelak bertemu dengan hewan lain atau manusia, kecuali jika diancam.

    2. Australian Brown Snake

               Ular dengan nama latin Pseudonaja textilis ini berhabitat di Benua Australia, Papua Nugini, dan Indonesia. Panjang ular ini antara 1,1 - 2,1 meter dan beraktifitas di siang hari. Setiap gigitan ular ini mengeluarkan sekitar 2 - 10 mg racun yang artinya mampu membunuh sekitar 100 - 200 orang per gigitan. Gejala yang ditimbulkan oleh racun ini yaitu pusing, diare, kelumpuhan, gagal jantung, bahkan kematian apabila tidak ditangani dengan cepat.

    3. King Brown Snake


                 Habitat ular dengan nama latin Pseudechis australis ini tersebar di Benua Australia. Ular King Brown tercatat sebagai ular berbisa terpanjang di dunia dengan panjang 2,5 - 3 meter. Ular paling berbisa urutan ketiga ini mampu menyuntikkan racun sampai 150 mg dengan sekali gigitan, yang mana dosisnya dapat membunuh 100 orang. Sifat racunnya bersifat myotoxin yaitu melumpuhkan mangsa. Jika manusia tergigit harus segera ditangani dengan cepat dan diberi penawar racun.

    4. Saw Scaled Viper

                    Habitat ular dengan nama latin Echis carinatus ini tersebar di kawasan yang kering dan banyak terdapat di Afrika, Timur Tengah, Pakistan, India dan Sri Lanka. Panjang ular ini berkisar 38 - 80 cm dan aktif pada malam hari. Dalam satu kali gigitan ular ini mampu menyuntikkan racun antara 12 - 18 mg, dimana 5 mg mampu membunuh seorang manusia dewasa dalam waktu 12 - 24 jam setelah tergigit. Anti racun untuk ular jenis ini pun sangat langka bahkan beberapa laporan mengatakan persentase kematian orang yang tergigit mencapai 20%.

    5. Many Banded Krait



                   Habitat ular dengan nama latin Bungarus multicinctus ini tersebar di China, Taiwan, dan negara-negara Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Di Indonesia ular ini sering dikenal dengan nama ular weling, ular belang, ular warakas. Panjang ular ini 1 - 1,85 meter dan mampu menyuntikkan racun 4,6 - 19,4 mg per sekali gigitan. Gejala yang ditimbulkan apabila tergigit oleh ular ini yaitu terasa gatal dan mati rasa di daerah sekitar gigitan. Sekitar 1 - 6 jam kemudian korban akan merasa sesak nafas, pengelihatan yang kabur, sakit di sekujur badan, kehilangan suara, dan apabila dibiarkan dapat menyebabkan kematian. Seorang dokter di Myanmar dilaporkan meninggal 29 jam setelah tergigit. Beberapa laporan bahkan menyatakan bahwa tingkat kematian korban mencapai 75 - 100%.

    6
    . Tiger Snake


                     Habitat dengan ular paling berbisa keenam dengan nama latin Notechis scutatus ini tersebar di selatan dan barat Benua Australia. Panjang ular ini berkisar 0,9 - 2,9 meter dan ular ini aktif di malam hari saat suhu udara hangat. Gigitan ular ini dapat mengakibatkan kesemutan, mati rasa, dan berkeringat, kesulitan bernapas dan kelumpuhan. Beberapa laporan mengatakan bahwa tingkat kematian korban ular Tiger Snake ini mencapai 40 - 60%.

    7. Black Mamba


                   Sesuai dengan namanya yang melegenda, ular berwarna khas hitam di mulut dengan nama latin Dendroaspis polylepis merupakan ular yang paling mematikan di dunia urutan ketujuh. Habitat ular ini berada di Benua Afrika dan mempunyai panjang 2 - 3 meter. Kecepatan ular Black Mamba dapat mencapai 16 km/jam dan ketika menyuntikkan racun antara 100 - 120 mg per gigitan. Korban yang tergigit akan lumpuh dalam waktu 45 menit dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu 7 - 15 jam apabila tidak mendapat perawatan segera.

    8. King Cobra


                 Satu lagi ular yang namanya sudah melegenda dan dikenal luas di Indonesia, King Cobra (Ophiophagus hannah). Habitat ular ini terdapat di kawasan Asia Timur dan Tenggara termasuk Indonesia. King Cobra termasuk tipe ular yang agresif dan bahkan dapat memangsa ular lain yang lebih kecil. Seekor King Cobra dapat menyuntikkan racun antara 200 - 500 mg per gigitan yang cukup membunuh seekor gajah dalam waktu 1 jam. Ketika sesorang dipatuk oleh King Cobra gejala gigitan ular menyebabkan kelumpuhan, sakit yang luar biasa di seluruh tubuh, pandangan yang kabur, dan dibutuhkan antitoxin dalam jumlah yang besar untuk menangkal racun tersebut. Beberapa laporan tingkat kematian korban gigitan King Cobra mencapai 28%.

    9. Death Adder

                Di urutan kesembilan ular paling mematikan di dunia yaitu Death Adder (Acanthophis antarcticus). Habitat ular ini terdapat di Timur dan Selatan Australia dan memiliki panjang 70 - 100 cm. Ular ini dapat menyerang dengan cepat dan setelah korban terkena gigitan ini dapat mengakibatkan kelumpuhan. Reaksi racun Death Adder sangat cepat dan dapat menyebabkan kematian jika dalam waktu 6 jam seseorang yang terkena gigitan tidak mendapat perawatan.

    10. Mojave Rattlesnake

                 Ular yang paling berbahaya di dunia yang urutan ke sepuluh dikenal di dengan nama Rattlesnake atau ular derik (Crotalus scutulatus). Ular ini mempunyai panjang 100 - 138 cm dan dikenal karena kemampuannya mengeluarkan suara dari ekornya ketika merasa terancam. Gejala setelah tergigit ular derik sesorang akan merasa kesulitan menelan dan berbicara, pandangan kabur, kelumpuhan otot, kesulitan dan kegagalan bernafas. Tingkat kematian yang disebabkan oleh ular ini antara 5 - 20%.

    Senin, 27 November 2017

      Balut Bidai
    Balut Bidai
                    Balut bidai merupakan penanganan umum trauma ekstremitas atau  imobilisasi dari lokasi trauma dengan menggunakan  penyangga, seperti spalk. Pengetahuan tentang balut bidai penting untuk kita ketahui, terlebih saat hendak berkegiatan di alam terbuka. Kecelakaan ringan mungkin saja dapat terjadi jika kita tidak berhati-hati. Contohnya keram, terkilir, hingga patah tulang.
                    Pembalutan dan pembidaian saling erat kaitannya. Pembalutan dilakukan untuk menghentikan pendarahan, mencegah kontaminasi, serta melekatkan sesuatu bidai. Pembalutan biasanya dilakukan dengan menggunakan mitela, pembalut pita gulung/verband, pembalut elatis, dan pembalut cepat. Jika dalam keadaan mendesak dan tidak ada mitela, kita dapat memanfaatkan slayer, bandana, ataupun kain lainnya.
    Sedangkan, pembidaian  bertujuan untuk mempertahankan posisi yang  patah agar tidak bergeser, mencegah komplikasi, memberi rasa nyaman, serta memudahkan dalam mobilisasi. Pembidaian biasanya menggunakan spalk, neck colar, dll. Prinsip pembidaian meliputi, bahan yang digunakan tidak mudah patah dan tidak lentur, panjang bidai minimal 2 sendi, dan bidai tidak dipasang di atas luka/fraktur.
    Jika dalam keadaaan mendesak, kita dapat memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar, seperti slayer, bandana ataupun kain lainnya untuk menggantikan mitela dan kardus untuk menggantikan neck collar. Namun, alangkah baiknya jika kita menyiapkan terlebih dahulu alat dan bahan untuk P3K sebelum melakukan kegiatan. Hal ini bertujuan agar nantinya kita siap dengan kondisi apapun.




    Posted at  23.00  |  in    |  Read More»

      Balut Bidai
    Balut Bidai
                    Balut bidai merupakan penanganan umum trauma ekstremitas atau  imobilisasi dari lokasi trauma dengan menggunakan  penyangga, seperti spalk. Pengetahuan tentang balut bidai penting untuk kita ketahui, terlebih saat hendak berkegiatan di alam terbuka. Kecelakaan ringan mungkin saja dapat terjadi jika kita tidak berhati-hati. Contohnya keram, terkilir, hingga patah tulang.
                    Pembalutan dan pembidaian saling erat kaitannya. Pembalutan dilakukan untuk menghentikan pendarahan, mencegah kontaminasi, serta melekatkan sesuatu bidai. Pembalutan biasanya dilakukan dengan menggunakan mitela, pembalut pita gulung/verband, pembalut elatis, dan pembalut cepat. Jika dalam keadaan mendesak dan tidak ada mitela, kita dapat memanfaatkan slayer, bandana, ataupun kain lainnya.
    Sedangkan, pembidaian  bertujuan untuk mempertahankan posisi yang  patah agar tidak bergeser, mencegah komplikasi, memberi rasa nyaman, serta memudahkan dalam mobilisasi. Pembidaian biasanya menggunakan spalk, neck colar, dll. Prinsip pembidaian meliputi, bahan yang digunakan tidak mudah patah dan tidak lentur, panjang bidai minimal 2 sendi, dan bidai tidak dipasang di atas luka/fraktur.
    Jika dalam keadaaan mendesak, kita dapat memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar, seperti slayer, bandana ataupun kain lainnya untuk menggantikan mitela dan kardus untuk menggantikan neck collar. Namun, alangkah baiknya jika kita menyiapkan terlebih dahulu alat dan bahan untuk P3K sebelum melakukan kegiatan. Hal ini bertujuan agar nantinya kita siap dengan kondisi apapun.




     Balut Bidai
    Balut Bidai
                    Balut bidai merupakan penanganan umum trauma ekstremitas atau  imobilisasi dari lokasi trauma dengan menggunakan  penyangga, seperti spalk. Pengetahuan tentang balut bidai penting untuk kita ketahui, terlebih saat hendak berkegiatan di alam terbuka. Kecelakaan ringan mungkin saja dapat terjadi jika kita tidak berhati-hati. Contohnya keram, terkilir, hingga patah tulang.
                    Pembalutan dan pembidaian saling erat kaitannya. Pembalutan dilakukan untuk menghentikan pendarahan, mencegah kontaminasi, serta melekatkan sesuatu bidai. Pembalutan biasanya dilakukan dengan menggunakan mitela, pembalut pita gulung/verband, pembalut elatis, dan pembalut cepat. Jika dalam keadaan mendesak dan tidak ada mitela, kita dapat memanfaatkan slayer, bandana, ataupun kain lainnya.
    Sedangkan, pembidaian  bertujuan untuk mempertahankan posisi yang  patah agar tidak bergeser, mencegah komplikasi, memberi rasa nyaman, serta memudahkan dalam mobilisasi. Pembidaian biasanya menggunakan spalk, neck colar, dll. Prinsip pembidaian meliputi, bahan yang digunakan tidak mudah patah dan tidak lentur, panjang bidai minimal 2 sendi, dan bidai tidak dipasang di atas luka/fraktur.
    Jika dalam keadaaan mendesak, kita dapat memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar, seperti slayer, bandana ataupun kain lainnya untuk menggantikan mitela dan kardus untuk menggantikan neck collar. Namun, alangkah baiknya jika kita menyiapkan terlebih dahulu alat dan bahan untuk P3K sebelum melakukan kegiatan. Hal ini bertujuan agar nantinya kita siap dengan kondisi apapun.




    Posted at  22.41  |  in    |  Read More»

     Balut Bidai
    Balut Bidai
                    Balut bidai merupakan penanganan umum trauma ekstremitas atau  imobilisasi dari lokasi trauma dengan menggunakan  penyangga, seperti spalk. Pengetahuan tentang balut bidai penting untuk kita ketahui, terlebih saat hendak berkegiatan di alam terbuka. Kecelakaan ringan mungkin saja dapat terjadi jika kita tidak berhati-hati. Contohnya keram, terkilir, hingga patah tulang.
                    Pembalutan dan pembidaian saling erat kaitannya. Pembalutan dilakukan untuk menghentikan pendarahan, mencegah kontaminasi, serta melekatkan sesuatu bidai. Pembalutan biasanya dilakukan dengan menggunakan mitela, pembalut pita gulung/verband, pembalut elatis, dan pembalut cepat. Jika dalam keadaan mendesak dan tidak ada mitela, kita dapat memanfaatkan slayer, bandana, ataupun kain lainnya.
    Sedangkan, pembidaian  bertujuan untuk mempertahankan posisi yang  patah agar tidak bergeser, mencegah komplikasi, memberi rasa nyaman, serta memudahkan dalam mobilisasi. Pembidaian biasanya menggunakan spalk, neck colar, dll. Prinsip pembidaian meliputi, bahan yang digunakan tidak mudah patah dan tidak lentur, panjang bidai minimal 2 sendi, dan bidai tidak dipasang di atas luka/fraktur.
    Jika dalam keadaaan mendesak, kita dapat memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar, seperti slayer, bandana ataupun kain lainnya untuk menggantikan mitela dan kardus untuk menggantikan neck collar. Namun, alangkah baiknya jika kita menyiapkan terlebih dahulu alat dan bahan untuk P3K sebelum melakukan kegiatan. Hal ini bertujuan agar nantinya kita siap dengan kondisi apapun.




    Rabu, 22 November 2017

    Pola Pencarian SAR

    Search and Rescue (SAR) diartikan sebagai usaha dan kegiatan kemanusiaan untuk mencari dan memberikan pertlongan kepada manusia dengan kegiatan yang meliputi mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam bencana atau musibah.
    Pengarahan pada operasi pencarian SAR yang dilakukan sebaiknya menggunakan checklist seperti Situasi, Cuaca, Area Pencarian, dan Pola Pencarian. Terkait dengan judul artikel ini, kami akan membahas Pola Pencarian SAR.

    Penjelasan Pola Pencarian SAR :

      1.  Track Line
    Pola pencarian seperti 1 garis lurus maju ke depan, dimana jarak antar pencari ±2m. Cocok untuk daerah berbukit dengan kontur tidak terlalu ekstrim. Korbany di anggap tidak berada pada jalan setapak di jalur pendakian, tapi masih dekat dengan jalur tersebut.

            2.      Track
    Pola ini dipakai jika korban dan jalur perjalanan yang direncanakan akan dilewati oleh korban merupakan satu-satunya informasi yang ada. Selain itu korbany juga dianyggap masih atau berada pada jalur rute pendakian.

            3.      Paralel
    Daerah pencarian luas tapi medannya datar. Hanya mempunyai posisi duga. Sangat baik untuk daerah pencarian yanyg berbentuk segi empat.

           4.      Creeping Line
    Daerah pencarian sempit, panjjang, dan kondisinya cukup rata serta datar. Kalau di punggungan gunung, tim pencari dengan pola ini akan turun ke jurang-jurang atau dataran yang lebih rendah.

           5.      Square
    Biasanya digunakan pada medan yang datar. Dengan pola ini posisi duga harus merupakan kemungkinan yang tepat. Pembelokkan tidak sembarangan, tapi dengan perhitungan yang matang.

           6.      Sector
    Lokasi atau posisi korban sudah diketahui dan daerah pencarian tidak begitu luas serta berbentuk lingkaran. Rute regu pencari berbentuk segitiga sama sisi.

           7.      Contour
    Digunakan di bukit-bukit dan pencarian selalu dimulai dari puncak tertinggi

           8.      Barrier
    Digunakan dengan menunggu atau mencegati dengan perhitungan yang pasti bahwa korban akan lewat kembali dengan melihat ketentuan lingkungan. Digunakan jika pencari tidak bisa mendekati lokasi korban.


    Posted at  04.22  |  in    |  Read More»

    Pola Pencarian SAR

    Search and Rescue (SAR) diartikan sebagai usaha dan kegiatan kemanusiaan untuk mencari dan memberikan pertlongan kepada manusia dengan kegiatan yang meliputi mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam bencana atau musibah.
    Pengarahan pada operasi pencarian SAR yang dilakukan sebaiknya menggunakan checklist seperti Situasi, Cuaca, Area Pencarian, dan Pola Pencarian. Terkait dengan judul artikel ini, kami akan membahas Pola Pencarian SAR.

    Penjelasan Pola Pencarian SAR :

      1.  Track Line
    Pola pencarian seperti 1 garis lurus maju ke depan, dimana jarak antar pencari ±2m. Cocok untuk daerah berbukit dengan kontur tidak terlalu ekstrim. Korbany di anggap tidak berada pada jalan setapak di jalur pendakian, tapi masih dekat dengan jalur tersebut.

            2.      Track
    Pola ini dipakai jika korban dan jalur perjalanan yang direncanakan akan dilewati oleh korban merupakan satu-satunya informasi yang ada. Selain itu korbany juga dianyggap masih atau berada pada jalur rute pendakian.

            3.      Paralel
    Daerah pencarian luas tapi medannya datar. Hanya mempunyai posisi duga. Sangat baik untuk daerah pencarian yanyg berbentuk segi empat.

           4.      Creeping Line
    Daerah pencarian sempit, panjjang, dan kondisinya cukup rata serta datar. Kalau di punggungan gunung, tim pencari dengan pola ini akan turun ke jurang-jurang atau dataran yang lebih rendah.

           5.      Square
    Biasanya digunakan pada medan yang datar. Dengan pola ini posisi duga harus merupakan kemungkinan yang tepat. Pembelokkan tidak sembarangan, tapi dengan perhitungan yang matang.

           6.      Sector
    Lokasi atau posisi korban sudah diketahui dan daerah pencarian tidak begitu luas serta berbentuk lingkaran. Rute regu pencari berbentuk segitiga sama sisi.

           7.      Contour
    Digunakan di bukit-bukit dan pencarian selalu dimulai dari puncak tertinggi

           8.      Barrier
    Digunakan dengan menunggu atau mencegati dengan perhitungan yang pasti bahwa korban akan lewat kembali dengan melihat ketentuan lingkungan. Digunakan jika pencari tidak bisa mendekati lokasi korban.


    Kamis, 16 November 2017

    Nama-Nama Puncak Gunung Muria

    Gunung Muria adalah sebuah gunung di wilayah utara Jawa Tengah bagian timur, yang termasuk ke dalam beberapa wilayah, yaitu Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Pati. Nama Gunung Muria dan daerah Kudus dinamakan berdasarkan nama Bukit Moria dan kota Al-Qudus/Baitul Maqdis/Yerusalem. Demikian pula nama Masjid Al Aqsa Menara Kudus berdasarkan nama Masjid di Yerusalem.

    Gunung Muria memiliki beberapa puncak yaitu diantaranya :

    1.    1.  Puncak Natas Angin
    Puncak Natas Angin
    Natas Angin merupakan puncak tertinggidi gunung muria. Ketinggian maksimalnya sekitar 1700 mdpl. Lebih tinggi sedikit dari puncak songolikur, yakni di kisaran 1606 mdpl. Banyak pendaki berbondong-bondong untuk menaklukkkannya. Meskipun dianggap tertinggi, tapi banyak sekali pendaki pemula yang melakukannya. Karena ketinggian di sini tidak seekstrim gunung lainnya. Bisa dikatakan kalau puncak natas angin kudus ini masih tergolong rendah. Pendakian menuju puncaknya terbilang sulit dan menantang. Medan paling menantang ada sebelum mencapai puncaknya. Medan yang dimaksud dikenal dengan sebutan jalur naga. Jalur naga ini punya ciri khas berkelok, tanjakan curam, sempit, dan kiri kanannya jurang semua. Jadi, cukup menantang.
    2.      Puncak 29 (songolikur)
    Puncak Songolikur
    Puncak 29 muria atau dikenal puncak songolikur (bahasa jawa), merupakan tujuan populer pendakian di area sekitar gunung muria. Puncaknya juga dikenal dengan nama puncak 29 sapto renggo. Entah apa maksud dari penamaan itu, yang pasti banyak sekali pendaki tertarik untuk mencapai puncaknya. Lebih-lebih ketika suasana liburan tiba. Puncak 29  memiliki ketinggian sekitar 1603 mdpl. Ada dua jalur yang bisa dilewati kalau mau ke puncak 29 gunung muria kudus ini. Jalur pertama adalah dari desa Rahtawu Gebog. Kemudian jalur kedua melewati Desa Tempur, Keling Jepara. Mengenai keindahannya, tentu tidak diragukan lagi. Alamnya yang masih asri, tentu membuat pendaki merasakan suasana yang tidak biasa.
    3.      Puncak Argowiloso
    Puncak Argowiloso
    Puncak Argowiloso memiliki ketinggian 1553MDPL, ketinggian yang sangat cocok untuk para pendaki pemula, yang menawarkan pemandangan tak kalah takjubnya. Puncak Argowiloso sendiri pernah di tutup beberapa hari karena kebakaran di jalur puncak, namun, tak membutuhkan waktu lama, puncak tersebut di buka kembali. Dari puncak Argowiloso, akan terlihat  puncak 29 yang terbentang di depan. Dari puncak argowiloso kita dapat menyaksikan pemandangan alam yang sangat menakjubkan apabila kabut tidak tebal.
    4.      Puncak Abiyoso
    Puncak Sapto Argo atau biasa disebut puncak Abiyoso ini adalah puncak terendah di Kudus puncak ini diminati oleh kalangan kalangan muda untuk berkemah dan bercandaan disana karena tidak terlalu tinggi dan tidak menguras energi. Tetapi puncak ini tidak cocok bagi para traveler yang sudah berpengalaman ke gunung gunung yang tinggi dan menantang.
    5.      Puncak Agrojembangan
    Puncak Argojimbangan
    Puncak Argo Jembangan atau biasa disebut puncak Punuk Sapi adalah puncak yang berbentuk menyerupai punuk sapi. Rute Argo Jembangan bisa dilalui dari arah Colo kemudian Desa Japan, lanjut masuk ke daerah perhutani diantara gunung Muria dan Argo Jembangan. Tapi medan disini sulit dilalui karena pendaki sering kehilangan arah dan tiba tiba kompas tidak berfungsi, kita juga tidak bisa melihat arah karena matahari tertutup oleh puncak Argo Jembangan . Dan jalur paling mudah dan disarankan adalah melewati Kec. Gembong Pati dan menuju ke Desa Domo Klakah Kasian lalu lanjut ke desa terpencil yang dikepung perkebunan kopi yaitu desa Tunggul Wulung.




    Sumber :
    ·         http://alatmendaki.com


    Posted at  12.03  |  in    |  Read More»

    Nama-Nama Puncak Gunung Muria

    Gunung Muria adalah sebuah gunung di wilayah utara Jawa Tengah bagian timur, yang termasuk ke dalam beberapa wilayah, yaitu Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, dan Kabupaten Pati. Nama Gunung Muria dan daerah Kudus dinamakan berdasarkan nama Bukit Moria dan kota Al-Qudus/Baitul Maqdis/Yerusalem. Demikian pula nama Masjid Al Aqsa Menara Kudus berdasarkan nama Masjid di Yerusalem.

    Gunung Muria memiliki beberapa puncak yaitu diantaranya :

    1.    1.  Puncak Natas Angin
    Puncak Natas Angin
    Natas Angin merupakan puncak tertinggidi gunung muria. Ketinggian maksimalnya sekitar 1700 mdpl. Lebih tinggi sedikit dari puncak songolikur, yakni di kisaran 1606 mdpl. Banyak pendaki berbondong-bondong untuk menaklukkkannya. Meskipun dianggap tertinggi, tapi banyak sekali pendaki pemula yang melakukannya. Karena ketinggian di sini tidak seekstrim gunung lainnya. Bisa dikatakan kalau puncak natas angin kudus ini masih tergolong rendah. Pendakian menuju puncaknya terbilang sulit dan menantang. Medan paling menantang ada sebelum mencapai puncaknya. Medan yang dimaksud dikenal dengan sebutan jalur naga. Jalur naga ini punya ciri khas berkelok, tanjakan curam, sempit, dan kiri kanannya jurang semua. Jadi, cukup menantang.
    2.      Puncak 29 (songolikur)
    Puncak Songolikur
    Puncak 29 muria atau dikenal puncak songolikur (bahasa jawa), merupakan tujuan populer pendakian di area sekitar gunung muria. Puncaknya juga dikenal dengan nama puncak 29 sapto renggo. Entah apa maksud dari penamaan itu, yang pasti banyak sekali pendaki tertarik untuk mencapai puncaknya. Lebih-lebih ketika suasana liburan tiba. Puncak 29  memiliki ketinggian sekitar 1603 mdpl. Ada dua jalur yang bisa dilewati kalau mau ke puncak 29 gunung muria kudus ini. Jalur pertama adalah dari desa Rahtawu Gebog. Kemudian jalur kedua melewati Desa Tempur, Keling Jepara. Mengenai keindahannya, tentu tidak diragukan lagi. Alamnya yang masih asri, tentu membuat pendaki merasakan suasana yang tidak biasa.
    3.      Puncak Argowiloso
    Puncak Argowiloso
    Puncak Argowiloso memiliki ketinggian 1553MDPL, ketinggian yang sangat cocok untuk para pendaki pemula, yang menawarkan pemandangan tak kalah takjubnya. Puncak Argowiloso sendiri pernah di tutup beberapa hari karena kebakaran di jalur puncak, namun, tak membutuhkan waktu lama, puncak tersebut di buka kembali. Dari puncak Argowiloso, akan terlihat  puncak 29 yang terbentang di depan. Dari puncak argowiloso kita dapat menyaksikan pemandangan alam yang sangat menakjubkan apabila kabut tidak tebal.
    4.      Puncak Abiyoso
    Puncak Sapto Argo atau biasa disebut puncak Abiyoso ini adalah puncak terendah di Kudus puncak ini diminati oleh kalangan kalangan muda untuk berkemah dan bercandaan disana karena tidak terlalu tinggi dan tidak menguras energi. Tetapi puncak ini tidak cocok bagi para traveler yang sudah berpengalaman ke gunung gunung yang tinggi dan menantang.
    5.      Puncak Agrojembangan
    Puncak Argojimbangan
    Puncak Argo Jembangan atau biasa disebut puncak Punuk Sapi adalah puncak yang berbentuk menyerupai punuk sapi. Rute Argo Jembangan bisa dilalui dari arah Colo kemudian Desa Japan, lanjut masuk ke daerah perhutani diantara gunung Muria dan Argo Jembangan. Tapi medan disini sulit dilalui karena pendaki sering kehilangan arah dan tiba tiba kompas tidak berfungsi, kita juga tidak bisa melihat arah karena matahari tertutup oleh puncak Argo Jembangan . Dan jalur paling mudah dan disarankan adalah melewati Kec. Gembong Pati dan menuju ke Desa Domo Klakah Kasian lalu lanjut ke desa terpencil yang dikepung perkebunan kopi yaitu desa Tunggul Wulung.




    Sumber :
    ·         http://alatmendaki.com


    Rabu, 08 November 2017

    Macam Macam Bentuk dan Tipe Gunung


    Gunung adalah sebuah bentuk tanah yang menonjol di atas wilayah sekitarnya. Gunung adalah bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Sebuah gunung biasanya lebih tinggi dan curam dari sebuah bukit, tetapi ada kesamaaan, dan penggunaan sering tergantung dari adat lokal. Beberapa otoritas mendefinisikan gunung dengan puncak lebih dari besaran tertentu; misalnya, Encyclopædia Britannica membutuhkan ketinggian 2000 kaki (610 m) agar bisa didefinisikan sebagai gunung.
    Berdasarkan tipe letusan gunung berapi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
    1.      Gunung Api Strato atau Kerucut. Kebanyakan gunung berapi didunia merupakan gunung api kerucut. Kerucut ini terbentuk karena materi letusan gunung berapi merupakan campuran antara hasil erupsi efusif dan erupsi eksplosif. Sebagian gunung berapi di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku termasuk gunung berapi kerucut.
    2.       Gunung Api Maar. Gunung api maar terbentuk karena adanya letusan eksplosif dari dapur magma yang relative kecil atau dangkal. Contoh gunung api ini antara lain Gunung Bromo dan Gunung Tangkuban Perahu di Indonesia.
    3.       Gunung Api Perisai. Gunung ini terbentuk karena magma yang keluar dari dapur magma bersifat cair. Di Indonesia tidak ada gunung yang berbentu perisai. Gunung api perisai contohnya Maona Loa Hawaii, Amerika Serikat.
    macam-macam tipe gunung api 
    1.      Stromboli – Tipe ini diakibatkan adanya tekanan erupsi yang tidak terlalu kuat akan tetapi berlangsung lama, hal ini disebabkan oleh magma yang cair, tekanan gasnya sedang dan letak dapur magmanya dangkal. Contoh letusan gunung stromboli adalah Gunung Raung di jawa Timur.
    2.      Hawaii – Tipe ini dicirikan oleh daya erupsinya yang lemah, antara lain karena lavanya cair, tekanan gasnya rendah serta dapur magmanya dangkal. Bentuk gunung apinya perisai. Contohnya letusan gunung Kilauea, Mauna Kea dan Mauna Loa.
    3.       Vulkano Lemah – Tipe ini mempunyai ciri tekanan gasnya sedang, dapur magma tidak terlalu dalam. Contohnya tipe ini adalah letusan Gunung Bromo dan Semerudi jawa Timur.
    4.      Vulkano Kuat – Tipe ini mempunyai ciri tekanan gasnya tinggi, karena dapur magmanya lebih dalam. Contoh tipe ini adalah letusan Gunung Etna di Italia.
    5.      Tipe Merapi – Tipe ini dicirikan sifat lavanya yang cair kental dan tekanan gas agak rendah. Lava tersebut dikeluarkan dari pipa kepundansangat lambat sehingga membeku dan menjadi sumbat lava. Contohnya Gunung Merapi di Jawa Tengah.
    6.       Tipe Pelee – Tipe ini mempunyai ciri erupsinya sangat eksplosif karena magmanya sangat kental, tekanan gas tinggi, dan dapur magma yang dalam. Contoh dari tipe ini adalah Gunung Pelee di Amerika Tengah.
    7.      St Vincent – Tipe ini mempunyai ciri letusannya tidak terlalu kuat. Magmanya sangat kental, dapur magmanya dangkal sehinggatekanan gasnya sedang. Contoh gunung tipe ini adalah St Vincent dikepulauan Antiles dan Gunung Kelud di Indonesia.
    Bahan-bahan yang dikeluarkan oleh gunung api antara lain yaitu:
    • Eflata (material padat) terdiri dari bom (Eflata yang berukuran besar) dan berupa lapili (Eflata yang berukuran kecil, seperti kerikil, pasir dan debu).
    • Lava dan lahar, berupa material cair.
    • Eksalasi (gas) berupa nitrogen belerang yang disebut solfatar, uap air yang disebut fumarol dan gas asam yang disebut moffet.
    Sumber :

    Posted at  21.41  |  in    |  Read More»

    Macam Macam Bentuk dan Tipe Gunung


    Gunung adalah sebuah bentuk tanah yang menonjol di atas wilayah sekitarnya. Gunung adalah bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Sebuah gunung biasanya lebih tinggi dan curam dari sebuah bukit, tetapi ada kesamaaan, dan penggunaan sering tergantung dari adat lokal. Beberapa otoritas mendefinisikan gunung dengan puncak lebih dari besaran tertentu; misalnya, Encyclopædia Britannica membutuhkan ketinggian 2000 kaki (610 m) agar bisa didefinisikan sebagai gunung.
    Berdasarkan tipe letusan gunung berapi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
    1.      Gunung Api Strato atau Kerucut. Kebanyakan gunung berapi didunia merupakan gunung api kerucut. Kerucut ini terbentuk karena materi letusan gunung berapi merupakan campuran antara hasil erupsi efusif dan erupsi eksplosif. Sebagian gunung berapi di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku termasuk gunung berapi kerucut.
    2.       Gunung Api Maar. Gunung api maar terbentuk karena adanya letusan eksplosif dari dapur magma yang relative kecil atau dangkal. Contoh gunung api ini antara lain Gunung Bromo dan Gunung Tangkuban Perahu di Indonesia.
    3.       Gunung Api Perisai. Gunung ini terbentuk karena magma yang keluar dari dapur magma bersifat cair. Di Indonesia tidak ada gunung yang berbentu perisai. Gunung api perisai contohnya Maona Loa Hawaii, Amerika Serikat.
    macam-macam tipe gunung api 
    1.      Stromboli – Tipe ini diakibatkan adanya tekanan erupsi yang tidak terlalu kuat akan tetapi berlangsung lama, hal ini disebabkan oleh magma yang cair, tekanan gasnya sedang dan letak dapur magmanya dangkal. Contoh letusan gunung stromboli adalah Gunung Raung di jawa Timur.
    2.      Hawaii – Tipe ini dicirikan oleh daya erupsinya yang lemah, antara lain karena lavanya cair, tekanan gasnya rendah serta dapur magmanya dangkal. Bentuk gunung apinya perisai. Contohnya letusan gunung Kilauea, Mauna Kea dan Mauna Loa.
    3.       Vulkano Lemah – Tipe ini mempunyai ciri tekanan gasnya sedang, dapur magma tidak terlalu dalam. Contohnya tipe ini adalah letusan Gunung Bromo dan Semerudi jawa Timur.
    4.      Vulkano Kuat – Tipe ini mempunyai ciri tekanan gasnya tinggi, karena dapur magmanya lebih dalam. Contoh tipe ini adalah letusan Gunung Etna di Italia.
    5.      Tipe Merapi – Tipe ini dicirikan sifat lavanya yang cair kental dan tekanan gas agak rendah. Lava tersebut dikeluarkan dari pipa kepundansangat lambat sehingga membeku dan menjadi sumbat lava. Contohnya Gunung Merapi di Jawa Tengah.
    6.       Tipe Pelee – Tipe ini mempunyai ciri erupsinya sangat eksplosif karena magmanya sangat kental, tekanan gas tinggi, dan dapur magma yang dalam. Contoh dari tipe ini adalah Gunung Pelee di Amerika Tengah.
    7.      St Vincent – Tipe ini mempunyai ciri letusannya tidak terlalu kuat. Magmanya sangat kental, dapur magmanya dangkal sehinggatekanan gasnya sedang. Contoh gunung tipe ini adalah St Vincent dikepulauan Antiles dan Gunung Kelud di Indonesia.
    Bahan-bahan yang dikeluarkan oleh gunung api antara lain yaitu:
    • Eflata (material padat) terdiri dari bom (Eflata yang berukuran besar) dan berupa lapili (Eflata yang berukuran kecil, seperti kerikil, pasir dan debu).
    • Lava dan lahar, berupa material cair.
    • Eksalasi (gas) berupa nitrogen belerang yang disebut solfatar, uap air yang disebut fumarol dan gas asam yang disebut moffet.
    Sumber :

    About-Privacy Policy-Contact us
    Copyright © 2013 PARESMAPA || Pencinta Alam Remaja SMA Negeri 1 Pati ||. Template by Bloggertheme9
    Powered by Paresmapa Team.
    back to top